Powered by Blogger.

Afternoon Sky


Ijen, 18 Agustus 2018

Dari yang awalnya janjian akan di jemput pukul 22.30 di Stasiun Karangasem akhirnya kami minta dijemput di homestay dan jam nya juga akhirnya mundur. Baguslah karena itu kami sempat mencari amunisi sebelum tracking ke Kawah Ijen. Kali ini kami menggunakan jasa open trip dari Nuartha Tour yang ternyata kerjasama sama Tour Banyuwangi.

Hampir tengah malam ketika kami jalan cari makan. Sebelum sampai di homestay tadi sempet ada warung sate yang berasa ngawe awe banget dan rasanya ga jauh dari rumah, tapi ternyata lumayan jauh. Jadilah kita melipir dalam hati oke apa aja lah yang penting cukup untuk naik turun ijen nanti. Tak lama kemudian kami lewat di depan sebuah warung yang barusaja gerbangnya ditutup oleh mbak2 penjualnya, tutup. Tapi si embak tetep tanya ke kita “mau cari apa mbak”, sambil kita lihat2 tulisan menu eh si kunthi dah jawab dengan wajah innocent ala oneng “mau cari sate mbak”, kita bingung. Mbaknya bingung, kunthi juga ikutan bingung. Kita semua bingung dong ya di menu yang terpasang ga ada sate dan plis ini tengah malem jadi keinget adegan mbak2 beli sate seratus tusuk itu ga sih bhay

Akhirnya kami dipersilahkan masuk kemudian dibuatkan makanan yang lumayan lama tapi karena kami tergiur jajan tempura2an sosis jaman SD gitu menunggupun tak jadi masalah, anaknya gampang terhibur sama makanan. Setelah sosis2an habis akhirnya menu kami datang, namanya nasi Tampong. Isinya ada sayur rebus macam pecel gitu tapi pakai sambel lamongan plus lauk lele atau telur dadar, beuuuhh mantapp. Tapi karena makannya pas malam hari dan tadi udah diduluin sama jajan juga porsinya yang lumayan banyak jadinya ga habis, yang bersih tuntas cuma punya Dilla kayaknya juarakk. harga nasi Tampong dengan lauk telur dadar dan teh manis hangat adalah 15 ribuuu.

Tak lama kemudian, pihak Tour info kalau akan segera menjemput di tempat kami makan. Usai berhitung, bayar membayar akhirnya mobil jemputan datang dan kami pamit. Beruntung nya kami malah diberi bekal roti sagu (kayaknya ini khas di banyuwangi sih) sama buibu yang jualan, huaa makin terharu buibunya baik sekaliiiii.

Kami di sambut sama Tour Guide, namanya mas Dedik, lalu kami naik ke mobil yang ternyata di dalam mobil sudah ada serombongan mbak2 yang terdiri dari 3 orang. Jadi rombongan Tour kali ini adalah 11 orang (biasanya bisa diisi sampai 12 orang). Kami memilih tempat duduk di bagian belakang. Mobil mulai melaju untuk menjemput satu rombongn lagi. Ternyata rombongan ini sekeluarga, 1 anak, bapak, dan ibu. Setelah rombongan komplit kami langsung menuju ke Base camp pendakian Gunung (Kawah) Ijen.

Beberapa hari sebelum keberangkatan sempet tanya2 ke mbak Emma yang sebelumnya udah pernah kesana. Katanya Track ke Ijen lumayan berat karena medannya yang nanjak berkelanjutan. Hmm oke baiklah ini semacam tantangan buat saya yang entah kapan terakhir bener2 bener olahraganya. Beberapa hari sebelum keberangkatan cuma sempet senam senam aja dan itupun masih berasa berat kalau ngangkat tangan sendiri hadeuuhh. PR banget kalo mau nanjak nanjak kudu banyakin latian olahraga biar napasnya oke ga pendek2.

Sebelum jam 2 dini hari kami telah sampai di basecamp pendakian, kami di briefing sebentar oleh mas Dedik lalu kami mencari toilet setelah itu. FYI ternyata toilet di basecamp yang “bener” cuma 1 dan pas dini hari itu kita ga ditunjukkan ke toilet itu. Kami diarahkan ke toilet yang saya rasa belum jadi, hanya ada ruangan sama lubang untuk jamban, (belum ada jambannya lho ini, cuma lubangnya aja), daan TANPA PINTU, bhay. Hanya ada selembar tripleks yang sepertinya memang disediakan untuk menutup sebagai ganti pintu. Sebenarnya saya pingin buang air kecil tapi setelah tau begitu keadaannya saya urungkan niat, dalam hati berdoa semoga bisa tahan sampai besok :’ . si Puma adalah salah seorang yang berhasil buang air dengan berbekal air mineral botol dan tisue basah. Oiya toilet itu juga belum ada bak air, bener bener kosongan. Mungkin jika temen2 akan kesana 1 / 2 bulan lagi toiletnya udah bener dan beres.

Dini hari itu disana tampak sudah ramai sekali rombongan2 orang yang akan mendaki, mulai dari pengunjung lokal maupun turis dari manca negara. Usai dari toilet kami menunggu mas Dedik yang sedang mengurus tiket masuk. 15 menit berlalu ini orang belum nampak, hampir setengah jam dan kami sudah gemas menunggu, rasanya pengen ndang jalan karena memang udara yang mulai menusuk2 membuat kami ingin segera bergerak. Namun mas Dedik belum juga muncul padahal rombongan lain sudah banyak yang mulai bergerak. Beberapa saat kemudian ia muncul untuk menginfokan bahwa antrian tiketingnya cukup panjang, kami diminta menunggu beberapa saat lagi.

Sekitar pukul 2.20 kami akhirnya mulai berjalan, setelah entah kapan kali terakhir saya nanjak nanjak hari itu saya rada deg degan gajelas haha. Trecking kali ini saya hanya membawa sling bag yang saya isi dengan sekaleng Pocari Sweat, sebungkus cokelat, kamera pocket, handphone, Minyak Angin, dan dompet. 

Mula- mula jalur yang kami lalui landai hingga berangsur angsur makin lama semakin menanjak. Mungkin untuk yanag sudah terbiasa berolah raga atau lari, trek ini mudah2 saja. Jalannya berupa tanah, sangat jarang berupa batu2an. Karena jalan yang rata aka tanpa bebatuan itulah malah sedikit menyulitkan karena ketika berhenti berasa oleng haha, beda lagi kalo ada yang digandeng bhahak, eits jangan salah saya punya gandengan dong sepanjang perjalanan saya bergantian gandengan dengan kunthi atau april ini bener2 hampir sampe atas kita gandengan terus haha karena memang segitu ga terjalnya jalur.

FYI untuk yang pingin mendaki tapi ingin berhemat tenaga, di jalur pendakian ini ada jasa taksi aka gerobak. Pengunjung bisa menggunakan jasa ini dengan meraup kocek seharga 300k, ini dari pengamatan saya lho untuk pastinya silahkan tektokan sendiri hahay. Tapi walau begitu ketika lihat bapak2 yang ngojek gerobak ini tetep aja rasanya ga sampe hati saya bawa diri naik aja sudah berat apalagi bawa orang huaaa.

Dini hari itu langit benar benar cerah dan bebintangan begitu banyaknya pengobat lelah lah , sedikit. Ada sekita 7 pos sebelum akhirnya sampai puncak. Kami berhenti sebentar di pos 5 (kalo ga salah) yang ada warung dan toilet untuk buang air. Ini saya sempet nyesel sih kenapa ga ikutan antre alhasil ngempet sampe siang ck. Sebelum subnuh kami akhirnya sampai si puncak. Masih gelap gulita hanya terlihat kabut2 dan angin yang bertiup lumayan kencang.

Saya dan kunthi sempat terpisah dengan 3 orang lainnya. Lalu kami mencoba mencari mereka menuju jalur turun dimana kita dapat melihat Blue Fire si Primadona itu, tapi melihat medan yang menurut kami sulut, bener2 tanah batu dan berpasih begitu lah pokoknya kami sempet turun dan terpeleset2 pasir lalu akhirnya kami mengurungkan niat. Cupu.

Sebagai alternatif lain sebenernya bisa lihat sunrise di tempat yang lebih tinggi namun kami memilih kembali ke gazebo untuk sholat dan akhirnya ketemu sama April, Dilla, Puma. Dari rombongan tour kita yang berhasil lihat Blue Fire cuma Keluarga mbak Dita. Ah memenag kewl sekaliiiii. Tapi apa daya wes dari pada kenapa2 lihat dari yutup aja.


Matahari semakin naik tapi angin tetep konsisten kencang dan udara dingin. kami akirnya memutuskan untuk turun. kebayang gimana nanjaknya ketika berangkat maka ketika turun siap siap lutut jadi tumpuan. kami disambut pemandangan yang luar biasa ketika turun, gegunungan, pepohonan ah hijau segar sekali. 

Karena saya dan salah seorang teman bener2 udah kebelet jadi entah gimana caranya kami berasa cepet banget turunnya, sampai di pos 5 niat hati ingin melepaskan segala beban yang ada, e toilet antri dan ternyata TAK ADA AIR. BHAY. oke kami melanjutkan tanpa jadi melepaskan beban, turun sambil menahan tu rasanya emm.. sampai akhirnya karena seorang teman saya ini , yang namanya tak ingin saya sebut, saking ga sanggup lagi menahan beban kami akhirnya melipir ke salah satu toilet yang ada di jalur pendakian, namun ternyata toilet itu DIKUNCI. dengan kekuatan gamau menunda lagi akirnya si mawar membulatkan tekat untuk gali lubang tutup lubang dengan berbekal sebotol air mineral. oke bhay. dia meninggalkan kenangan disini.

akhirnya sampai juga di basecamp, saya akirnya berburu toilet, ADA! namun antrinya warbyasaaaahh. udah ga ngerti lagi gimana akhirnya saya kembali juga ke toilet semalam hiks. oke dari segala keindahan di Ijen, satu satunya hal yang membuat galau dan risau adalah ketidak adanya toilet BERSIH dan air yang cukup. Namun mungkin ini sedang dalam perbaikan , semoga makin bags dan bersih deh toiletnya jadi makin nyamannnnn.

Setelah membuang segala beban, saya dan mawar menyempatkan diri membeli makan sambil menunggu rombongan yang lain datang. Tak lama kemudian ternyata mereka telah sampai di mobil, lalu kami melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya.... (to be continue)

Regards,
Lina
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Semarang-Surabaya, 17 Agustus 2018

Seperti tahun lalu, tahun ini saya dan Dilla kembali melakukan sebuah perjalanan, namun kali ini kita ga Cuma berdua (walau tahun lalu kita akhirnya juga berempat si haha), kali ini kita #jalanberlima yay. Saya, Dilla, Kunthi, dan Puma berangkat dari stasiun Tawang Semarang dan April berangkat dari stasiun Solo. Kami akan bertemu di Surabaya nantinya.

Kereta kami berangkat pukul 08.11 WIB dari Stasiun Tawang Semarang dan tiba di Stasiun Pasar Turi sekitar pukul 12.30an, lebih cepat beberapa menit dari jadwal. Seperti biasa, selalu senang naik Ambarawa Express, kereta yang bersih cakep tapi ramah di dompet. April sudah lebih dulu tiba di stasiun Gubeng Baru Surabaya karena memang jadwal yang lebih pagi dan jarak Solo-Sub lebih dekat.

Usai sholat dhuhur di mushola peron, kami bergegas ke Stasiun Gubeng Baru untuk melanjutkan perjalanan. Kereta kami selanjtnya berangkat pukul 14.00, masih ada waktu sekitar 1 jam untuk menuju Stasiun Gubeng Baru dan makan siang.

Pukul setengah dua, setelah print e ticket akhirnya kami bertemu April di foodcourt stasiun. Bergegas membeli makan siang, ketika akan menyuap makanan terdengar informasi “Kereta Sri Tanjung dengan tujuan Stasiun Karangasem akan berangkat beberapa saat lagi….” Oke, diam sejenak, sambil mengingat2. Kami akan naik kereta Sri Tanjung, dan tujuan kami adalah Stasiun Karangasem Banyuwangi, tapi ini masih setengah jam lagi dari jadwal kok udah mau berangkat, makan siangnya boro boro habis, sesendokpun baru otw lho eh mana April masih di toilet pula rada gelisah tapi kok... Setelah saling lempar pandangan , dengan gesit Dilla lalu berkata “tiket mana tiket..” lalu lari ke sumber suara..

Suasana lengang, melanjutkan makan siang dengan tetep deg2an “kalo ketinggalan kereta kan ga lucu ya pie iki” tapi tetep sok santai, sampai akhirnya Dilla kembali dengan sumringah oke ini cukup melegakan walau belum tau bagaimana penjelasannya. “ gimana dil? Itu kereta kita?”, “tadi kan aku kesana terus bilang ke bapaknya, lo pak ini ga bisa ditunda keberangkatannya?” (rada geli sih kalo dipikir2 mana mungkin bisa ditunda gitu ya mang siapa ente bhahak) “gabisa mbak, lha mbak mau kemana”, “ke karangasem pak tapi jadwalnya jam 14.00 kok ini dah berangkat,” “oo itu beda mbak belum datang keretanya”.. fiuuuuh oke lanjut makan dengan tenang sampai jam duaa~

Ini kali pertama saya ke Stasiun Gubeng, jauh lebih besar dan adem banget daripada Pasar Turi. Akhirnya Sri Tanjung kami datang dan perjalanan cukup panjang akan dimulai. Kami akan di kereta dari pukul 14.00 sampai 20.34 WIB. Terasa lama karena kami di kereta dari matahari masih merekah hingga terlelap. Dari perut Kenyang hingga keroncongan lalu tergoda pop mie yang sedari tadi wara wiri. Sempet dengar pembicaraan mas2 pramusaji dengan salah seorang penumpang yang beli pop mie “duapuluh ribu mbak”. Sontak kami saling berdiskusi tipis2.. KOK MAHAL ahh. Oke kami urungkan niat. Sampai beberapa menit kemudian muncul anak kecil lewat dan membawa pop mie rubuhlah benteng pertahanan .

Oke ayok beli kalo harganya sepulu ribu, kunthi yang wajah innocent macem oneng bajaj bajuri yang kelaparan menawarkan diri untuk tektokan sama mas2 buat kasih harga sepuluh ribu. “mas pop mie berapa?” “ sepuluh ribu mbak”, “SEPULUH RIBUU (baca ini dengan intonasi naik turun zoom in zoom out)” kata kunthi , kira2 apa yang ada di benak mas2 pramusaji pas kunthi bilang gitu? “ kurang murah apa kurang mahal nih mbak?” mungkin begitu wkwk. Deal kami akirnya menyantap popmie yang memang harganya sepulu ribu bukan dua puluh ribu itu, nomnomnom~

Masih ada beberapa jam lagi sebelum sampai di Stasiun Karangasem Banyuwangi, setelah beberapa kali tidur-bangun-nyemil-ketawa and repeat, akhirnya saya memutuskan untuk cari suasana baru dengan menonton film Little Forest yang Japan Version, perbekalan dari Linda Sunbae. Baru nonton dikit udah kerasa banget adem ayem tentremnya gitu lumayan sedikit menjadikan waktu menunggu jadi berkesan *ah elah

Oiya untuk penginapan selama di Banyuwangi jauh jauh hari Dilla sudah membooking slot di Rumah Singgah Backpacker yang kalau di search di google bakalan muncul kata-kata “GRATIS” disertakan kontak atas nama mas Rahmat. Jujur saya tidak banyak berekspektasi, sejauh ini yang penting bisa naruh barang2 dan tidur, balada plesir ala backpacker semua muanya yang penting harga ramah di dompet aja.

Tak lama kemudian kami telah sampai di Stasiun Karangasem. Dari informasi mas Rahmat, Rumah Singgah persis ada di seberang pintu keluar stasiun. Terlihat banyak rombongan backpacker lain di sekitar sana. Kami menuju ke basecamp Rumah Singgah lalu bertemu dengan mas Ramat dan beberapa rekannya yang ternyata dari tadi nyariin rombongan kita tapi salah sebut nama.

 Nah disinilah terjadi campur tangan Rabb yang entah gimana caranya terjadi misskomunikasi yang jusru menguntungkan kami. Menurut asumsi kami mas Rahmat salah atur jadwal atau gimana saya juga gatau kenapa bisa begitu, pada akhirnya kami di antar ke sebuah home stay yang lumayan jauh dari basecamp dengan mobil . sampai disana kami dibukakan rumah, beneran rumah lengkap dengan segala perkakas siap pakai. Jujur dalam hati saya ngerasa kok kayaknya ini ga mungkin kalo gratis deh, kalopun gratis kok rasanya tetep ga enak hati gitu, apa jangan jangan.. ah sudahlah.


Kami sempat Tanya dengan mas2 yang mengantar kami gimana nantinya, maksudnya masalah pembayaran dan lain2 dia bilang supaya kami langsung bilang ke mas Rahmat saja. Sebelumnya di perjalanan kami sempat ngobrol kalau mas Rahmat itu memang orangnya baik, udah terkenal kemana mana kebaikannya gitulah pokoknya. Usai kunci rumah diberikan kepada kami, mas2 itu pergi dan kami masuk sembari bicara tipis2 masalah rumah ini, Dilla bilang ke mas Rahmat memalaui Whatsapp dan beliau bilang oke malam ini kami pakai rumah ini, untuk kedepannya bakal dibahas besok karena masih banyak klient yang harus diurus karena memang hari itu looong weekend.

Rumah yang kami tempati malam mini terdiri dari 2 lantai, ada 2 kamar di lantai bawah, dapur, 2 kamar mandi, ruang tengah lengkap dengan tv, namun kami hanya memutuskan untuk menggunakan ruang tengah dan satu kamar saja karena suasananya masih belum jelas. Hingga nantinya karena kesepakatan awal menginap di Rumah Singgah adalah seiklhasnya, kami memutuskan untuk membayar 30.000 per orang untuk mengganti biaya listrik dan air.

Selesai bersih-bersih, kami memilih dan memilah kira kira barang apa saja yang perlu dibawa untuk trip ke Ijen-Baluran nanti. Kami akan dijemput pukul 22.30 WIB . (to be continue)

Best Regards,
Lina Listya 💛
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

18-19 Agustus 2017

okay, ini sudah terlalu lama untuk melanjutkan cerita, tapi tetep harus ditulis biar ga nyesel kalo pengen nginget2 tapi udah lupa :' oke semoga detail ceritanya belum begitu lupa yah karena saya yang sok sibuk sampai keinginan untuk konsisten nulis harus terbengkalai huhu.

Oke back to the topic, jadi setelah saya dan Dilla sampai di Mador dan disusul sama mbak Efa dan mbak rihana, sore harinya kami berencana jalan jalan sambil kulineran salah satunya ke MadameHwang yang sedari lama sudah kami stalking dan pingin banget mampir kesana karena tempatnya yang terlihat unyu, cozy cerah ceria serta seru banget.

Karena siangnya kami baru saja bisa check in, jadilah kami menikmati gegoleran suka suka di kamar sampai ketiduran. Dan baru bangun sore sore syahdu. Bangun tidur kita siap siap dong mau jalan jalan sore ke Madam Hwang. Sambil menunggu siap siap si Dilla seaching location di google maps dan hal yang tidak kami inginkan pun terjadi *zoom in, zoom out ala sinetron zaman now* , TUTUP. Oke waktu itu hari Jumat dan entah kenapa Madame Hwang tutup gasik pas hari jumat. Seketika kami hopeless kehilangan arah tsaah. Lebay. Gadeng akhirnya kami pindah haluan.

Setelah berkeliling kota Malang sore sore, sekitar habis maghrib kami pulang ke Mador. Setelah berbincang sebentar dengan roomate yang ternyata dari Semarang juga, akhirmya kami menuju bed masing-masing. Gausah ditanya, tentu yang saya lakukan adalah tiduuur. Kalau lagi bepergian, dan ada kesempatan untuk tidur saya adalah orang yang tak mau melewatkannya. Karena saya pikir malam nanti pasti tidurnya bakal kacau.

FYI, karena ini kali pertama kami ke Bromo jadi kami memilih jasa Open Trip. Sebelumnya pas baca blog punya orang yang pernah ke Bromo dan pernah juga nanya temen, rasanya ke Bromo itu bakalan ribet banget. Harus naik kereta, cari jeep sewaan belum lagi kalo gatau harga bisa rugi banget  kan ya. Nah Open Trip Smartway ini jadi solusi banget buat yang tetep pingin seru tanpa ribet. Walaupun Open trip tapi kita juga bisa banget jadi Private Trip kalau rombongan terdiri jadi 6 orang. Namun karena kami hanya berempat jadilah kami open trip dengan 2 orang lainnya yang belum kami tau. Macam surprise kan ya haha serunya disini. Pernah mikir sih ntar gimana ya kalau ternyata ga cocok, em ntar gimana ya kalau jadinya awkward dan pikiran negatif dan sensitif lainnya, maklum saja karena kami semua perempuan. Walaupun sebenarnya seru juga nantinya.

Untuk harga dan service yang ditawarkan Smartway ada bermacam macam. Kami memilih paket open trip dengan harga 300k/orang, ini sudah termasuk tiket, breakfast dan lain lain. Jadi intinya kami terima beres. Dijemput dan diantar ke penginapan masing-masing.

Hari itu kami akan dijemput sekitar setengah 1 pagi, setelah sebelumnya saya mendapat kontak Pak Driver dari Mas Fikri, travel consultat Smartway. Oke ini kali pertama saya mandi tengah malam, biasanya juga ga mandi ini gegayaan aja sih biar tetep seger nanti sampe Bromo nya haha. Beruntung di Mador tersedia air panas karena menurut saya udara Malang cukup dingin.

Sembari menunggu dijemput Pak Kirun, sang driver yang pada awal chatnya sempat saya panggil “Mas” haha (geli karena ternyata sudah bapak2 bhahak), kami packing semua barang kami karena sekalian check out. Lah barang bawaan dibawa ke Bromo? O tidak dong, walaupun kami sudah check out tapi barang bawaan bisa dititipkan di Mador, kami hanya membawa barang2 yang dibutuhan selama trip.

Beberapa saat kemudian Pak Kirun sudah sampai di depan Mador, kami bergegas menuju jeep untuk kemudian menghampiri 2 orang lainnya di penginapan Lily yang tidak jauh dari Mador. Selama perjalanan menuju Lily kami mengobrol tipis tipis sama Pak Kirun, masih rada canggung karena masih rada jetlag bangun tidur. Saya dan Dilla dapet jatah duduk di depan. Jalanan Malang dini hari itu sepi, hanya ada beberapa pedangang yang sudah di pasar, luar biasa memang sepagi itu sudah semangat mencari nafkah. Coba saya, jam segitu masih aja narik selimut lagi enak enaknya mimpi :'D .

Tak lama kemudian kami telah sampai di depan Lily, Pak Kirun segera menelepon 2 orang rombongan tersebut. Sambil menutup telponnya, Pak Kirun bilang, “Wah, ini ada anak kecilnya kayaknya, barusan saya telpon dia lagi nangis,” kita bengong gatau harus gimana , “ Dulu saya pernah trip ada anak kecilnya, nah dia Nangis kedinginan, akhirnya saya yang nemenin di mobil berasa jadi Bapak lagi saya “ sambil ketawa.Terus kami masing bengong dan berharap si anak ga rewel aja, semoga aman dah tapi masih rada pesimis setelah denger cerita bapake tadi.

Akhirnya 2 orang rombongan + anak bayi yang biasa dipanggil Abi bergabung dengan kami. (maapkeun nama ayah ibunya lupa :'D). Setelah saling sapa dan ngobrol perkenalan, ternyata walaupun belum genap setahun si Abi ini anaknya udah terbiasa diajak pergi jauh, sebelum ini pun kata ayah ibunya Abi udah pernah sampai Lawu loh. Seketika asumsi kepesimisan kita tentang si anak bayik ini luluh. Benar juga selama perjalanan dia ga rewel sama sekali, palingan ubeknya kalo lagi mau nenen, bahkan ceria banget ohmooo bawa pulang boleh ? Haha.

Setelah sejenak jeep berhenti di basecamp, kami melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya. Jalanan menanjak, berkelok, berlubang, berbatu menjadi luar biasa ditemani kelip bintang yang makin lama makin terlihat banyak. Karena masih dini hari, dan ga semua jalan yang kami lewati ada penerangan jadilah kadang rada serem kalo lihat keluar jendela hah dasar anaknya cupu, jadi kalo pas lewat yang beneran tempat gelap gitu saya lebih milih buat merem, lumayan kan ya mimpi bentar haha.

Tujuan pertama kita adalah di View Point Pananjakan yang kabarnya disana dingiiin banget. Bener aja sekitar pukul 3 an kami sampai di pananjakan dengan suhu yang super dingin tapi ga same minus tenang aja ehee. Usahakan pakai jaket tebal dan segala perlengkapan kehangatan yang cukup biar ga kedinginan apalagi nantinya bikin kebelet pipis terus, karena apa? Karena bayar toilet lebih mahal dari harga t eh anget. Bayangpun, sekali ke toilet bayarnya 5 ribu. Coba aja kalo 4 kali kebelet pipis udah 20k sendiri kan boros :'D

Setelah mempertimbangkan ini itu kami memutuskan untuk naik ke Sunrise point sekitar jam 4 karena  jika siang sedikit pasti akan ramai sekali. Namun sempat galau karena bingung mau subuhan dimana, nah ternyata di dekat sunrise point ada semacam pendopo yang memang digunakan untuk tempat sholat. Jadi tempat sholatnya terbuka gitu dengan angin sepoi-sepoi super dingin. Belum lagi airnya yang mirip mirip sama air di freezer yang mulai cair brrr.

Benar juga ketika kami tiba di sunrise point sudah hampir dipenuhi dengan orang. Untuk sampai ke depan, kami harus berdesakan dan menyelinap diantara orang orang. Dan sampailah kami di agak depan. Di depan kami duduk sepasang bule yang romantis banget ga tau apa kita kita solo fighter, bhahak. Eh udah giliran mataharinya mulai nongol si bule ini pada berdiri, saya yang cuma seketeknya bingung kan ya mana mereka ngomongnya ga pake bahasa inggris. Oke suasana mulai riuh karena orang-orang yang di depan pada berdiri, kebayang kan walaupun saya di depan saya cuma bisa ngelihat dari kamera yang dibawa Dilla dan dari sela sela ketek si bule, untung aja sih ga ada bau bau aneh. Karena udah cukup dan males berdesakan akhirnya kami mundur.


Oiya sebelum berangkat ke Bromo beberapa dari kami di pandu hal hal yang akan dilakukan ketika trip melalui Whatsapp, termasuk panduan untuk menemukan Secret garden yang luar biasa itu. Karena kami, khususnya saya ini cupu dan sok tau jadilah awalnya kami salah jalan padahal harusnya jalannya gampang banget eh ini sampe belusukan, mana di awal udah sesumbar taunya nyasar geli banget. Tapi akhirnya ketemu dong dan benar saja view nya luar biasaaaa. Mau lagi mau lagi kesanaa :'D

Setelah puas berfoto ria akhirnya kami turun ke parkiran jeep untuk sarapan. Setelah itu lanjut turun ke bawah yaitu ke Bukit Cinta dan Widodaren. Sebenarnya kita bisa photo stop di Bukit Cinta tapi kami memilih untuk langsung ke Widodaren. Mengapa dinamakan Widodaren? Kata Pak Kirun dulunya para bidadari suka mandi disana. Wait, mandi? Di pasir? Entahlah haha.

Dari Penanjakan ke Widodaren tampak jelas jalanan berkelok dan turunan curam serta hamparan luasnya Taman Nasional Bromo yang tampak tak aja ujungnya. Bayangin aja kalau saya dilepas sendirian di bawah wes pasti hilang arah, mana barat mana selatan wes entahlah saking luasnya. MasyaAllah.

Dari Widodaren kami menuju ke Kawah Gunung Bromo dan Pura Luhur Poten, namun kami kompak ga pingin nanjak ke kawahnya karena satu dan lain hal yang mengharuskan kami untuk menghemat tenaga. Lagi pula kondisi disekitar kawah rame sekali.


Tak perlu berlama lama kami langsung meluncur ke Pasir Berbisik. Strukturnya menurut saya hapir sama dengan Widodaren, berpasir gitu cuma bedanya di pasir berbisik ini lebih padang pasir banget, ditambah sesekali ada semacam twist pasir yang tertup angin gitu. Tapi kecil kecil dan cuma sebentar-sebentar. Setelah puas berfoto dan melihat hamparan pasir, selanjutnya kami meluncur ke Bukit Teletubies.

Kami tiba di sana ketika matahari sedang terik dan kondisi tanaman di sekitar bukit teletubies rada gersang, banyak tanaman yang kering bahkan hangus karena mungkin saking teriknya matahari. Karena sudah mulai panas akhirnya kami hanya mampir sebentar. Niat awal pingin mampir ke air terjun Coban Pelangi namun lagi lagi kami memilih langsung turun Ke Kota.

Karena masih ada banyak waktu sebelum trip berakhir, Pak Kirun menawarkan kami dan memberi rekomendasi tempat membeli oleh oleh endes di sekitaran daerah Bromo. Kami mampir di rumah penjual Apel malang yang akhirnya hanya ibu Abi yang beli. Pingin beli sebenernya tapi mikir ulang karena pasti ribet bawa pulangnya, jadilah kami hanya icip icip haha. Selain Apel Malang, oleh oleh khasnya adalah kripik buah, lagi lagi kami mampir ke Toko kripik buah rekomendasi Pak Kirun. Harganya lebih murah dibanding yang di Kota dan pilihannya banyak. Dan disinilah kami kalap dan  pingin beli semua variannyaaa.


Sampai di kota sekitar habis dhuhur. Kami diantar ke Mador dan harus berpisah dengan Abi si bayi gemas anti rewel itu. Semoga dilain kesempatan bisa bertemu lagi ya Bi ehee. Nah karena kami sudah check out dari Malang kami hanya bisa selonjoran di terasnya atau ruang tunggu aja deh. Dan juga akhirnya kami diijinkan sewa kamar mandi dengan membayar 10k. Sayangnya di Mador belum tersedia mushola, jadi kami harus keluar untuk sholat. Tapi pas kami masih check in kami bisa sholat di dalam kamar kok. Setelah sholat kami kembali ke Mador, bersiap untuk ke stasiun. Di stasiun kami harus berpisah, mbak Rihana ke Surabaya dan kami bertiga kembali ke semarang.

Kami bertiga naik kereta yang sama tapi di gerbong yang berbeda. Oke ini kali pertama saya naik kereta Matarmaja, kereta yang paling banyak diburu para backpacker karena harga yang manis tapi memang harus super sabar karena space kaki yang sempit dan panasnya. Kami kebagian sheet 3-3, dan yang bikin rada awkward 4 sheet lainnya ditempati mas mas . Mas mas berkarier yang ternyata habis dari Semeru. Karena saya dan Dilla sudah capek dan pingin merem jadi kami ga sempet ngobrol lama, lebih tepatnya kami bicara seperlunya banget. Ga ngebayangin sih gimana pegelnya habis dari Semeru pulang ke Jakarta dan naik Matarmaja yang kakinya bener bener harus nekuk.

Sekitar pukul 2 pagi saya dan Dilla sampai di stasiun Tawang. Masih ada waktu beberapa jam sebelum Subuh untuk merem sebentar. Kami memutuskan untuk stay di musholla peron yang lebih bersih dan masih sepi. Setelah subuh saya menuju ke shelter BRT dan berpisah dengan Dilla.

Perjalanan terlama saya yang lelah tapi ternyata nagih banget. Terimakasih Dilla udah mau bersedia backpackeran dengan modal seadanya, semoga bisa kembali jalan suka suka yaa. Oke ini sepertinya sudah terlalu panjang kita akhiri saja sebelum benar benar bosan *elaah*, sampai jumpa~

Best Regards,
Lina Listya 💛
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jumat, 18 Agustus 2017

Saya dan Dilla tiba di stasiun Malang sekitar pukul 2 pagi, dari pembicaraan kami dengan para driver go car ketika di Surabaya, kami disarankan untuk tidak memesan transportasi online di dekat stasiun atau kawasan ramai lainnya di Malang karena menurut pengalaman mereka akan berdampak kurang mengenakkan. Kami disarankan jika tetap ingin memakai layanan transportasi online maka lebih baik kami berjalan dulu hingga agak jauh dari stasiun.

***
Sekitar 30 menit sebelum kereta kami sampai di Stasiun Malang.
terdengar suara perempuan dari speaker kereta bahwa "Sesaat  lagi kereta Api akan tiba di Stasiun Lawang, periksa barang bawan anda bla bla bla bla"

"Dil, gantian aku di deket jendela yak,"
 karena waktu itu Dilla yang duduk di dekat jendela, dan saya pingin banget merem sebentar sebelum sampai Malang, jadilah saya meminta bergantian posisi dengan Dilla. Dilla pindah, saya mulai merem tipis-tipis. sesaat kemudian Dilla melongok ke bagasi barang-barang, masih wajar dalam hati mungkin Dia mau ambil sesuatu. beberapa detik kemudian, dia menurunkan barang bawaan dan membangunkan saya. 
"Ayok Lin siap-siap,"
 masih dengan backsound suara embak embak yang bertalu talu. Saya yang masih pingin merem cuma riyip riyip sambil ngeliatin Dilla yang mulai riweh. 
"Lho Dil, Malang nya masih jauh kok",
 "Lha itu mbak nya bilang mau sampe kok Lin" ,
 saya dan Dilla berpandangan, Dilla berpandangan dengan Bapak  penumpang di depan kami, Saya berpandangan dengan Bapak penumpang di depan kami, kami bertiga saling berpandangan. 
"Ini masih Stasiun Lawang Dil," 
"Malang Lin"
saya melihat Bapak di depan, Dilla melihat Bapak di depan, Bapak akhirnya berkata
 "L A W A N G mbak, Malang masih sekitar setengah jam lagi"
blaar kemudian dilla tidur lagi. wkwk ga deng kemudian Dilla geli sendiri. oke harap maklum mungkin saya membangunkan dia tidak disaat yang tepat jadi masih setengah sadar gitu lagian LAWANG sama MALANG sekilas sama jika didengarkan sambil ngantuk bhahaak

**

Karena kereta kami tengah malam dan tiba di Malang masih sangat pagi maka kami memutuskan untuk istirahat sebentar di peron sambil menunggu subuh untuk kemudian menuju Masjid Agung Jami’ Malang. Sebelumnya kami sudah mencoba cek jarak antara stasiun Malang dan Masjid Jami’ dengan google maps yang menunjukkan jarak yang menurut kami cukup ramah untuk ditempuh dengan berjalan kaki, sekitar 10-15 menit saja, jadilah kami berjalan kaki.

Berbekal google maps kami berjalan mejauh dari stasiun menuju alun-alun tugu yang waktu itu masih ramai dengan warna warni lampunya. Jalanan masih sepi hanya ada satu dua orang petugas kebersihan. Kami melewati balai Kota Malang yang juga sangat semarak dengan lampu warna warni nya. Kami sempat beberapa kali berhenti untuk mengambil foto namun karena waktu sudah hampir menunjukkan waktu Subuh jadilah kami mempercerpat jalan kami. Ternyata jarak sesungguhnya lebih jauh dari yang kami pikirkan, namun karena hari masih pagi jadi lumayanlah tidak terasa capeknya.



Suara adzan Subuh semakin lama semakin terdengar jelas, kami telah sampai di pelataran masjid Jami’. Gerah menjadi lebur seketika ketika terbasuh air wudhu, Subhanallah hehe. Usai sholat kami sejenak ikut mendengarkan kajian seusai subuh sambil meregangkan kaki yang sedikit mulai kaku.

Hari semakin terang, perut kami mulai menunjukkan tanda tanda butuh asupan. Semula saya mengira akan banyak penjual makanan di sekitar masjid, ternyata pagi itu tak terlihat sama sekali. Mungkin memang kepagian. Sempat bertanya pula dengan bapak-bapak jamaah masjid tempat yang banyak penjual makanan dan setelah kami cari ternyata tutup atau mungkin belum buka. Jadilah kami menikmati perut kosong di alun alun ditemani ratusan burung dara yang cukup membuat Dilla riang gembira.

Tak lama kemudian serang ibu pedagang gorengan mendekati kami, menawarkan beberapa gorengan yang tersisa. Tanpa pikir panjang langsung dibelilah dagangan si ibu untuk pengganjal perut. Bebreapa saat kemudian ada penjual soto di pinngir alun-alun, segeralah kami memesan. Sambil menikmati sarapan yang sebenarnya kurang cocok denan lidah kami ini kami berbincang dengan rombongan mbak-mbak (lupa mereka dari mana huhu) yang juga akan ke Bromo malam nanti, namun start point mereka dari Batu sehingga mereka harus melanjutkan perjalanan ke Batu. Berbeda dengan rombongan tadi, saya dan Dilla akan ke Bromo dengan start point Malang. Jadilah sebenarnya kami ke Malang hanya untuk transit sebelum ke Bromo.

Usai sarapan kami melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan kami di daerah Laksanama Martadinata dengan berjalan kaki lagi! Yang ada di pikiran kami hanya sampai di penginapan, check in kemudian gegoleran sesuka hati ah pikiran semacam membuat langkah kami semakin cepat. Namun ekspektasi memang tak selalu bahkan hampir tak pernah sesuai dengan realita, sampai di Mador, tempat kami akan menginap, kami baru bisa check in sekitar pukul 12 siang karena kondisi kamar yang belum memungkinkan, padahal waktu itu masih sektar jam 8 pagi ! pupus sudah harapan kami untuk gegoleran sesuka hati.

Drama belum usai sampai disini. Dasarnya memang travelling ala backpacker yang kalau lihat sesuatu yang pertama kali dilihat adalah harganya dan benar benar meminimalisir biaya jadilah kami mengalami sedikit diskusi yang agak panjang terkait pemesanan kamar. Yang awalnya kami yakin dengan hanya memesan 1 tempat tidur yang kami pikir bisalah untuk berdua, ternyata tak diberbolehkan. Karena 1 bed hanya untuk satu orang dengan model tempat tidur semacam cubicle. Setelah perhitungan ini itu dan bahkan sempat ingin mencari tempat lain karena ingin segera tidur jadilah kami akhirnya menambah 1 unit tempat tidur dengan harga per orang 90k. Namun tetap kami harus menunggu kamar dibereskan di ruang tunggu yang lumayan nyaman sambil menunggu Mbak Efa dan Mbk Dyah yang lebih dikenal dengan Mbak Rihana, teman kantor Dilla yang akan ke Bromo bareng saya dan Dilla. Awalnya mereka akan cari penginapan lain namun akhirnya kami bebarengan di Mador.

||make sure kalau booking penginapan udah clear sebelum hari H ||

Oiya di ruang tunggu atau ruang tengah Mador ini dilengkapi dengan Televisi, beberapa buku, sofa, bantal, bahkan monopoli. Saking ngantuknya saya sempat tertidur di ruang tamu dan baru terjaga setelah dibangunkan untuk pindah ke kamar yay kamarnya siap lebi cepat. Dengan masih setengah sadar saya gercep menuju kamar dan segera bersiap untuk mandi karena dari semalam belum mandi, bisa dibayangkan betapa gerahnya, tapi untungnya Malang tak sepanas di Semarang atau Surabaya.

Jadi bentuk kamar kita macam kotak kotak yang bisa diisi 6 orang. Ada 3 tingkat space di setiap bloknya. Space paling bawah adalah untuk menaruh barang barang, kemudian 2 di atasnya untuk tidur. Di setiap space tempat tidur ada lampu yang cukup sebagai penerangan masing masing space, kemudian stop kontak, gantungan baju, bantal, guling, selimut, serta dilengkapi dengan gorden. Jadi walaupun se ruangan dibuat bebarengan tetap bisa menjaga privasi wehe. Awalnya saya rada pesimis, memangnya nyaman ya tidur di tempat tidur macam oven gitu, nanti kalau gerah banget gimana dong, kalo gabisa napas duh macam mana nih. Noo ternyata beneran nyaman. Dibuat istirahat aman banget dan nyenyak karena suasananya tenang banget.

Untuk kamar mandi memang di Luar kamar dan dipakai barengan tapi tetep dipisah dong ya antara perempuan dan laki-laki. Walaupun dipakai bersama namun kondisinya bersih banget, ada 4 kamar mandi dengan shower air panas-dingin dan 1 kamar mandi dengan closet di kamar mandi perempuan. 

Kami mendapatkan fasilitas pantry yang bisa digunakan kapan saja dengan bahan makanan yang sudah tersedia seperti roti, buah, dan bebrapa minuman instan serta teh. Dari semua venue di Mador, pantry adalah favorit saya, bukan karena ada makanan tapi karena seru gitu, sebenarnya disana disediakan Postcard for free yang bisa dibawa pulang tapi apa boleh buat Postcard nya habis huhu.

FYI karena Mador ini merupakan penginapan tujuan Turis asing yang juga backpacker, maka tak heran jika ketika disana banyak sekali bule berseliweran. Sebenernya pengin gitu ngobrol tapi lebih milih tidur duh mulai lagi kan otak kadal Berjaya fiuh.

Oiya satu lagi ketika memasuki Mador, kami diharuskan melepas alas kaki di luar dan menggantinya dengan sandal jepit yang telah disediakan untuk membantu menjaga kebersihan.



(gambar tempat tidur source : google)

Karena di Malang hanya untuk transit sebentar sebelum ke Bromo jadilah kami hanya merencanakan untuk makan dan tidak pergi kemana mana. Awalnya kami ingin ke Madame Wang yang terkenal dengan pernak perniknya yang unyu menggemaskan. Tapi sekali lagi entah kenapa hari itu bertepatan dengan hari Jumat dimana tempat itu tutup jam 4 sore, sementara kami baru bersiap-siap untuk keluar untungnya Dilla cek jam buka dan tutup sebelum kami berangkat. Oke belum jodoh kan ya berarti harus ganti destinasi, Bakso Presiden ! bakso lagi biarin muehe.

Bakso presiden ini ternyata terletak di pinggir rel kereta api dan berasa banget sensasinya ketika kereta melaju wush gojes gojes tepat disamping kita menikmati kuah bakso beuhh. Yang berbeda dengan bakso lainnya yang pernah saya makan adalah jenis bakso yang bermacam macam dan disajikan tanpa mie. Saya pikir tanpa mie saya masih akan merasa lapar, ternyata posrsinya pas banget.



source google karena ga sempet ngefoto





Usai menikmati bakso Presiden dan hari masih sore, sayang banget jika harus pulang ke Mador. Lanjutlah kami menuju tempat jajan selanjutnya. Pilihan tertuju pada kedai serabi samping masjid karena waktu itu pas banget masuk Maghrib. Sampai sana malah bingung mau pesen apa karena mendadak jadi ga kepingin makan lagi. Pesanlah kami 2 serabi, ya hanya dua dan itupun hanya disentuh sedikit karena rasanya yang menurut kami aneh. Hmm pulang aja lah pulang.

Sampai di Mador kami menuju kamar dan bertemu dengan roommate lainnya yang ternyata juga orang Semarang, lah pas banget. namanya Mbak Empat, iya ini ga typo kok beneran namanya Empat gitu hehe. Setelah berbincang kami menuju tempat tidu masing masing lalu beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan tengah malam nanti.


PS : sebenarnya ada banyak sekali photoshoot yang terlewat, tapi sudah tervideokan oleh Dilla,semoga videonya cepet release di channel mu ya dils :D


 Regards,
Lina Listyawati

Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar

17 Agustus 2017 kami tiba di Stasiun Pasar Turi pukul 12.24 siang. Rencana sebelumnya destinasi tujuan saya dan Dilla di Surabaya adalah ke Tugu Pahlawan dan Museum Sampoerna dengan pertimbangan jaraknya cukup dekat dengan Stasiun. Namun setelah kami pikir lagi ada kendala dengan barang bawaan kami yang tak mungkin kami bawa berkeliling. Beberapa jam sebelum sampai di Surabaya ketika saya berkabar dengan teman saya, Hepta yang akan menemani kami selama di Surabaya, dia kemudian menawarkan kami untuk transit di kosnya yang memang sedikit agak lebih jauh dari rencana destinasi kami. Kos Hepta berada di Daerah sekitar ITS yang berjarak sekitar 30 menit dari Stasiun Pasar Turi dengan kendaraan.

Usai sholat dhuhur kami melanjutkan perjalanan ke ITS, dimana saya dan Hepta akan bertemu. Kami memilih untuk naik go-car karena kata Hepta di Surabaya jalur angkutan umum rada ribet selain itu sepertinya memang lebih nyaman dengan go-car. Driver pertama yang mengantar kami di Surabaya tak begitu banyak bicara, hanya sesekali saja, jadilah saya dan Dilla yang asik ngobrol absurd sambil taking video selama perjalanan untuk vlog Dilla.




Kesan pertama di Surabaya adalah panas. Lebih panas dari Semarang, jadi mungkin kalau ingin ke Surabaya bisalah menyesuaikan pakaian dengan pakaian yang mudah menyerap keringat biar ga begitu gerah. Akhirnya hampir 30 menit berlalu, sampailah kami di masjid Manarul, ITS. Tak lama kemudian Hepta datang dengan motornya. Karena motor hanya 1 jadilah kami gantian diboyong ke kosnya Hepta. Sembari menunggu dijemput lagi saya menikmati teduhnya masjid Manarul. Menurut saya masjid inilah yang paling bisa meneduhkan di tengah panasnya Surabya. Hijau, teduh banyak suara burung pula, mungkin kalau saya bawa tikar enak banget tiduran di bawah pohon gitu, maklum cupu anaknya penginnya piknik di bawah pohom sambil tiduran baca buku minum jus alpukat sambil dengerin depapepe sama si jodoh. Oke skip.

Beberapa saat kemudian Hepta datang dan meluncurlah kami ke Kosnya. Sampai disana Dilla lagi koler koler bahagia menikmati kipas angin setelah kepanasan. Sambil ngadem dan melepas rindu *ceilah maklum saya dan Hepta terakhir ketemu tahun lalu ketika buka puasa bersama di SMP* kami merencanakan destinasi yang akan kami kunjungi selama di Surabaya. Namun sebelumnya Hepta menyarankan agar kami makan siang dulu sebelum menjelajah. Oiya kali ini Hepta meminjami kami motor teman kosnya Alhamdulillaaah.

Dimanapun dan kapanpun, makanan yang rasanya ga pernah mengecewakan atau pilihan paling aman adalah BAKSO haha. Kami di antar ke sebuah foodcourt dengan bermacam pilihan menu, namun tetap dong setia sama bakso. Saya memesan bakso dan Dilla Ramen Jamur sementara Hepta ternyata sedang puasa, duh salah hari nih maafkan ya Hep haha *kemudian lanjut makan dengan lahap*. Ternyata bakso yang saya pesan agak bereda dengan bakso yang biasa saya makan. Kalau bakso biasanya menggunakan sayur sawi sebagai pelengkap, bakso di Surabaya ini menggunakan daun selada sebagai pengganti sawi. Sama sama enak sih apalagi jika memang sedang lapar hmm.





Selepas asar kami melanjutkan perjalanan ke Kenjeran Park yang letaknya tak jauh dari ITS. Kalau boleh saya bilang, Kenjeran Park ini semacam perpaduan Antara Wonderia-PRPP-Maerakaca-Dan Sampokong. Tempatnya luas banget namun beberapa tempat masih terbengkalai dan kurang bersih, tapi ada juga yang masih terawat dengan bagus.

Di gapura pintu masuk kami disambut dengan patung karakter anak anak dan semacam lambang klenteng. Kami dikenai biaya masuk Rp.15.000 per motor. Di dalam Ken Park ada istana semacam Disney versi Indonesia di area waterboom, kemudian ada wahana wahana warna warni. Kami banyak melewati tanah kosong yang sudah ditumbuhi semak semak di sepanjang jalan Ken Park sebelum akhirnya sampailah kami di tempat yang dimaksud Hepta. Yaitu patung dua naga dengan bola api, panjang amat yak. Jadi sebenarnya ini tempat semacam klenteng yang masih digunakan untuk beribadah karena di halaman depan masih banyak sekali jamaah dan bau dupa dimana mana. Sore itu banyak orang disana mungkin karena memang libur panjang. Jadilah kami tidak bisa leluasa untuk berfoto tanpa background lalu lalang banyak orang.







Kami berkeliling di sekitar patung naga dan melihat hamparan lautan lumpur. Saya kira adalah laut yang surut karena musim kemarau, ternyata memang itu adalah semacam lumpur. Dan ternyata jika dilihat dari dekat di tepi lautan lumpur itu banyak sekali taburan bunga mawar. Mungkin semacam persembahan gitu kali ya. Sementara di sebelah selatan patung dua naga terhampar hutan bakau yang menurut saya serasi sekali dengan hamparan lumpur yang di beberapa bagiannya terdapat kubangan air yang membentuk seperti jalan. Dan suasana sore itu semakin merdu ketika mulai banyak burung bangau berterbangan di sekitar lautan lumpur.

Setelah puas berfoto dan menikmati sore dari sisi timur, yaitu patung dua naga yang sebenarnya akan lebih cantik lagi ketika dinikmati pagi hari sembari menunggu sunrise, kami berpinda ke seberang klenteng patung dua naga menuju semacam klenteng juga yang lebih mirip ke pagoda. Dimana ada patung besar berwarna keemasan. Kalau dilihat lihat suasananya mirip di foto foto Thailand. Di tempat ini juga masih digunakan untuk beribadah. Jika patung dua naga adalah tempat yang tepat untuk menyaksikan sunrise maka pagoda ini adalah tempat dimana sunset terlihat sangat menarik, karena memang dua tempat ini saling berseberangan.


sumber : google.com




Sebelum maghrib kami sudah meninggalkan Ken Park dan menuju ke FoodFest daerah Pakuwon yang juga tidak jauh dari kompleks ITS. Kali ini hanya saya dan Dilla yang plesir disini karena Hepta ada acara dengan temannya. Jadilah kami membolang berdua. Disinilah kami bisa menyimpulkan bahwa Surabaya adalah Surganya pecinta kuliner. Bahkan di dalam mall pun, hampir didominasi oleh makanan. Mulai dari minuman yang beraneka macam dan packagenya lucu hingga dessert dan makanan berat yang benar benar menggoda, tapi harus tetep rem dong kembali lagi kami adalah backpacker dengan modal pas pasan. Di sana kami hanya membeli minum untuk sekedar melepas dahaga.





Sekitar pukul 19.30 kami memutuskan untuk kembali ke kos dan bersiap ke Stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Berbekal google maps, setelah kami agak berputar putar akhirnya sampailah di kos. Sambil menunggu Hepta pulag kami mulai beberes barang barang bawaan dan mandi. Usai mandi dan sholat isya sekitar pukul 21.30 kami akhirnya mennggalkan kos, big thanks untuk Hepta yang sudah bersedia kami repotkan. Jangan kapok ya Hep hehe.

Jadwal kereta kami jam 00.21, masih ada beberapa jam sebelum keberangkatan untuk mencicpi kuliner khas Surabaya. Dilla yang sebelumnya pernah ke Surabaya menyarankan sate klopo yang ada di Jalan Ondomohen. Dari kos menuju Ondomohen kami kembali naik go-car. Dan disinilah kami berbincang banyak hal dengan drivernya. Mulai dari yang tetiba ngomongin politik sampai pengalaman mendaki gunung lawu, karena ternyata si bapak driver ini adalah anak pecinta alam semasa kuliah, sampai serunya pengalaman di bromo. Setengah jam berlalu, tanpa terasa kami sudah berada di jalan Ondomohen.

Malam itu sepanjang jalan Ondomohen tak begitu ramai, banyak took yang sudah tutup atau bahkan libur di hari itu. Sempat mengira kalau tempat sate klopo juga tutup sebelum akhirnya kami menemukan kemelun asap dari bakaran sate klopo yang khas.

Saya tidak pernah membayangkan bagaimana sate klopo itu, yang ada hanya rada aneh klopo/kelapa kok disate duh. Karena penasaran dan lapar tentunya jadilah semakin ga sabar untuk mencicipi. Malam itu saya memesan 1 porsi sate klopo ayam dan Dilla memesan sate klopo sapi. Jika dilihat dari banyaknya pengunjung yang silih berganti berdatangan bisa disimpulkan kalau satenya enak. Dengan suasana ruangan penuh asap kami menikmati sate yang masih hangat. Ternyata sate klopo adalah sate daging yang dibalut dengan parutan kelapa (kalau saya ga salah haha) yang memebuat rasa satenya menjadi begitu gurih. Oiya sate klopo ini dinikmati tidak dengan menggunakan lontong melainkan memakai nasi dengan tambahan parutan kelapa yang sudah di sangrai atau di srundeng. Sebenarnya ini kali pertama saya makan sate dengan nasi karena sebenarnya lebih suka dengan lontong, namun diluar dugaan justru sate klopo ini memang sangat pas jika disandingkan dengan nasi.





Satu porsi sate ayam yang berisi kira kira 10 tusuk, ditambah nasi dan segelas teh dibandrol seharga Rp 28.000. overall saya merekomendasikan teman teman untuk mencobanya. Diluar tempat yang dipenuhi asap bebakaran satenya, ini tempat oke lah.

Usai makan, kemudian kami menuju stasiun untuk cetak tiket kereta. FYI, saya juga baru tau kalau sekarang tiket kereta api hanya bisa dicetak di stasiun keberangkatan. Karena stasiun keberangkatan kami malam itu adalah dari Pasar Turi jadi kami hanya bisa mencetak di Stasiun Pasar Turi.
Masih ada waktu sekitar satu setengah jam sebelum kereta datang. Kami menunggu sambil beristirahat sejenak dengan dikerumuni nyamuk yang entah kenapa banyak sekali dan kami lupa membawa lotion anti nyamuk. Jadi untuk teman teman yang akan melakukan perjalanan dan sepertinya akan melewati masa meunggu kereta tengah malam jangan lupa membawa lotion anti nyamuk agar waktu tunggu kalian menjadi lebih nyaman.




Menikmati hari kemerdekaan di Kota Pahlawan meninggalkan kesan tersendiri untuk saya. Disinilah saya melihat banyak kultur budaya dan agama saling berdampingan. Tak peduli hidung macung atau mata sipit, kulit hitam atau putih. Menurut saya Indonesia adalah ragam suku bangsanya, ragam budayanya, ragam bahasanya , ragam cita rasa makanannya dan ramah tamahnya. Merasa memiliki Indonesia berarti melindunginya dari berbagai gangguan, merasa memiliki adalah tidak merusak namun merawat dan melestarikan. Karena yang memiliki adalah kita maka yang berkewajiban melindungi adalah diri kita sendiri bukan dia atau mereka. Selamat berjuang menuju kemerdekaan diri sendiri dan Indonesiayang nyata. Sampai jumpa di cerita berikutnya !

Regards,
Lina Listyawati
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me

Seorang Introvert yang akan menjadi Ekstrovert ketika bertemu manusia sejenis.

Total Pageviews

Categories

knowledge my story pernak pernik stuff travelling tutorial

Popular Posts

  • Sejenak menikmati Malang di MADOR (Malang Dorm Hostel)
    Jumat, 18 Agustus 2017 Saya dan Dilla tiba di stasiun Malang sekitar pukul 2 pagi, dari pembicaraan kami dengan para driver go c...
  • AKHIRNYA, BROMO !
    18-19 Agustus 2017 okay, ini sudah terlalu lama untuk melanjutkan cerita, tapi tetep harus ditulis biar ga nyesel kalo pengen nging...
  • MERDEKA DI SURABAYA
    17 Agustus 2017 kami tiba di Stasiun Pasar Turi pukul 12.24 siang. Rencana sebelumnya destinasi tujuan saya dan Dilla di Surabaya ada...
  • Simple Drawing with Adobe Flash Professional CS6
    Pada post kali ini saya akan menunjukkan langkah-langkah pembuatan objek sederhana menggunakan Adobe Flash Professional CS 6. T...

Blog Archive

  • September 2020 (1)
  • May 2020 (1)
  • November 2019 (3)
  • October 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • August 2019 (1)
  • September 2018 (2)
  • August 2018 (2)
  • December 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • August 2017 (4)
  • July 2017 (3)
  • March 2016 (3)
  • February 2016 (2)
  • February 2015 (1)
  • December 2014 (1)
  • September 2014 (1)
  • August 2014 (1)
  • June 2014 (2)
  • April 2014 (1)
  • March 2014 (1)
  • January 2014 (3)
  • October 2013 (2)
  • July 2013 (3)
  • June 2013 (2)
  • April 2013 (1)
  • March 2013 (2)
  • February 2013 (1)
  • December 2012 (1)

instagram

Created with by ThemeXpose | Distributed By Blogger Templates20