Powered by Blogger.

Afternoon Sky


9 November 2019,
Pacitan, tempat yang menjadi tujuan kami kali ini untuk liburan, literally liburan. Karena biasanya kami (sebut saja GGT Young Generation (GGTYG) ceunah) berkesempatan liburan tipis-tipis kalo ada kondangan. Habis kondangan lalu mlipir, jadilah tak jarang saltum karena main pakai kostum kondangan. Akhirnya beberapa hari yang lalu kami merencanakan liburan ke tempat yang cukup jauh tapi ga jauh jauh amat dalam artian ga harus sampai nginep, terpilihlah tempat ini. Hari itu kami berencana berangkat pukul 12 malam, dengan perhitungan subuh sudah sampai sana jadi tempat yang akan kami kunjungi belum ramai. Seperti biasa, post penjemputan di kos Mb Emma, hari itu saya langsung bawa barang-barang dari pagi karena seperti biasa jam pulang kerja tak bisa diprediksi, jadilah saya berangkat kerja dengan ransel yang mengembang. Malam harinya sepulang kerja dan mampir makan malam, saya ke tempat Mbak Emma. Habis mandi, beberes barang-barang yang mau dibawa lalu gegoleran, niat hati ingin tidur dulu sebelum berangkat tapi gabisa yang beneran tidur, cuma merem tapi tetep kedengeran suara suara. Sampe akhirnya sekitar pukul 11 Leni datang ke kos Mbak Emma, dan kami mencoba tidur lagi sambil menunggu yang lain datang.

Pukul 12an, mbak Mamik dan Mbak Aini datang, disusul Mbak Anif dan Ulla dari Ungaran. Dimana Mbak Anif dan Ulla adalah peserta rombongan tersantuyy, gimana enggak kami yang udah prepare baju ganti dan printilannya sampe se ransel, eh mereka Cuma bawa totebag dongggg. Iya TOTEBAG, jelas ga bawa baju ganti dong. Tak lama kemudian Mbak Putri dan Bapak Arif datang. Kali ini peserta piknik asik ini ada 11 orang. Yang semula Mbak Aida dan Mas Farid akan gabung ke kos mbak Emma akhirnya kami jemput di gang rumahnya, karena malam itu gerimis ga kebayang kalo mereka bertiga sama Azzam harus naik motor ditambah bawa makanan sarapan buat kami.

Kurang lebih pukul 12.30 dini hari kami berangkat menuju rumah Mbak Aida. Kali ini kami diantar sopir yang sebelumnya mengantar rombongan ini ke kondangan Mbak Fifi di Pati tetapi saya Absen karena bebarengan sama nikahnya April dan juga mengantar team dieng , ini saya juga absen haha. Nah Pak sopir eh atau mas sopir yak karena dia masih belia haha, yang tak lain adalah teman dari temanannya Mbak Mamik, jadi lumayan sudah akrab sama beberapa dari kami. Dan juga menurut saya dari sekian sopir yang pernah mengantar kami, sopir kali ini jauh lebih friendly dan sabar, kalo sopir sopir yang lain kadang suka emosian wkwk. FYI, kali ini kami menggunakan mobil elp kapasitas 15 orang dengan harga sewa 1.5 juta, tetapi hanya kami isi 11 orang jadi tempat duduk di samping sopir kosong jadilah mas Arwan mengajak temannya untuk menemani, paling enggak jadi teman ngobrol ketika kami semua tertidur diperjalanan. Ngomongin tidur, sebelum kami berangkat tadi saya sempat minum antimo supaya langsung pules di perjalanan. Dan bener dong begitu bangun tau tau udah hampir subuh haha.

Menjelang subuh kami sampai di daerah Wonogiri tapi sudah ga begitu jauh dengan tujuan pertama. Kami mencari masjid untuk sholat subuh dan bersiap-siap. Tetapi masjid yang terdekat kondisinya kurang memungkinkan untuk sekalian mandi dn sarapan karena kamar mandi yang kecil dan airnya sedikit. Jadilah kami hanya menunaikan sholat subuh untuk kemudian melanjutkan ke tujuan pertama, yaitu Sungai Maron. Pacitan biasanya identik dengan Pantai Klayar, akan tetapi menurut suggest Mb Emma yang sudah pernah ke Pacitan mending kita cari objek yang beda. Jadilah kami memilih sungai ini sebelum ke dua pantai berikutnya. Kenapa sungai dulu, dengan alasan kalau pantai kan luaaas tuh jadi kalaupun banyak orang masih bisalah menikmati sambil poto poto di spot yang kira kira ga terlalu banyak orang, beda kalau di sungai, ketika sudah banyak orang maka akan mengurangi ke aestetikan foto bukan karena aera nya ya sebesar aliran sungai walaupun panjang sih tapi kan tetep aja ga nyaman kalau udah banyak orang haha.

Nah, karena tadi belum sempat siap-siap alhasil begitu kami sampai Sungai Maron tempat itu benar benar sepi, hanya ada satu dua penduduk asli yang lalu lalang mengerjakan aktifitas pagi hari dan perahu-perahu di tepi sungai yang dangkal tentu tanpa awak. Sempet ragu, ini tempatnya bukan ya? Kok sepi banget, dan airnya cetek, jangan jangan karena kemarau panjang jadi surut, dan pikiran lain yang membuat galau apakah kami akan putar haluan ke pantai dulu karena ternyata setelah tanya ke salah satu warga memang tempat ini belum waktunya buka. Namun mengingat jalanan menuju kesini yang luar biasa berkelok naik turun, bahkan sempat ada kejadian mobil yang posisinya lumayan jauh di depan kami ga kuat melewati tanjakan jadilah seluruh penumpang keluar dan para sopir mobil di belakangnya saling membantu mendorong huaaa ini berkesan sekali saling bantu membantuuu, karena ini akhirnya kami memutuskan untuk menunggu saja sambil bersiap siap untuk mandi dan selanjutnya sarapan.


 Awalnya saya mikir sarapannya seperti biasa, nasi kotak jadi tinggal bagi tapi ternyata tidakkk, jadi mbak aida bawa tempat-tempat lauk dan nasinya lalu kami bisa prasmanan dengan menggunakan kertas minyak. Mantap betul sarapan rame-rame di pinggir sungai ulala. Usai sarapan, tak lama kemudian ternyata tempat sudah beroperasi, tak menunggu lama kami langsung menuju loket untuk membeli tiket. Nah harga tiket ini dibayar per perahu seharga 100 ribu rupiah, dan 1 perahu bisa diisi maksimal 5 orang dewasa dan 6 orang kalau ada anak kecilnya. Karena rombongan kami ber 11 jadilah kami menggunakan 3 perahu dengan formasi 3, 4, 4. Saya seperahu dengan Mbak Emma dan Lenita, kenapa kami bertiga aja karena kata mbak Emma biar pas foto-foto movingnya gampang, selain itu kami sadar diri karena kami tim bongsor haha. Oiya nama perahu kami adalah “Harapan Kita”, untungnya Harapan Palsu ahayy. Serelah memaikai pelampung dan menaiki perahu mulailah kami menyusuri Sungai Maron ini walaupun di tengah perjalanan pelampungnya boleh dilepas haha demi konten foto yang lebih baik wkwk. Yang awalnya kami kira ini sungai surut karena kemarau ternyata tidakkk, memang start awalnya cetek eh setelah jalan makin dalam. Tapi kalo dipikir lagi udah paling bener sih begini, cetek dulu baru kemudian dalam, bayangin aja kalau tempat untuk menaik turunkan penumpang di bagian sungai yang dalam bakal riweuh kalau cetek kan kami bisa mencapai dasar sungainya untuk turun atau naik ke perahu.


Makin jauh makin lebar dan biru sungainya. Di kanan kiri sungai banyak pohon kelapa dan pepohonan lainnya. Dan ternyata sungai ini berujung ke pantai Ngiroboyo. Awalnya si bapak perahu harapan kita menawarkan mau lanjut sampai ke pantai di depan apa putar balik, kami memilih untuk putar balik karena kalau sampai ke pantai sebrang harus ganti perahu dan tentu saja bayar lagi dong haha. Sebelum kami kembali ke pemberhentian perahu, kami mlipir ke “wahana” ayunan tengah sungai. Buat yang penasaran gimana cara naik ke ayunan itu, jadi perahu akan berhenti di bawah ayunan, lalu sesiapa yang ingin naik harus berdiri sampe benar benar bisa sampe duduk di ayunan, setelah itu perahu akan menjauh deh. 


Kalo rombongannya jahil bisalah ditinggal di ayunan wkwk. Beda denga rombongan saya dan mbak aida di perahu sebelah, rombongan mbak putri memilih mlipir ke bagian sungai terdalam tak  jauh dari tempat ayunan itu. Kedalamannya kurang lebih 40 meter apa lebih ya ehe lupa, yang jelas kata mbak putri warna airnya lebih biru dan gelap, mungkin bagian itu semacam palung kali ya.Sesampainya kami di tempat pemberhentian perahu, pengunjung sudah mulai berdatangan, dan ramee bangeet, Alhamdulillah pas mulai rame kami sudah selesai menyusuri sungainya.


Sekitar pukul setengah 9 kami bergegas ke destinasi berikutnya, Pantai Banyutibo. Jadi lokasi yang kami pilih  jaraknya berdekatan jadi tidak begitu memakan waktu lama di perjalanan. Jalan menuju Pantai Banyutibo kebanyakan  masih terjal, bebatuan dan tanah belum di aspal, Alhamdulillah supirnya lincah melewatinya.

Tak lama kemudian kami tiba di parkiran Pantai Banyutibo. Dari parkiran ke bibir pantai kami harus jalan, tak begitu jauh. Dari parkiran ombak sudah kelihatan, biruuuuu. Nah yang membedakan Pantai ini dengan pantai yang lain adalah pantai di tempat ini sangat kecil dan untuk sampai ke pantai harus turun melalui tangga dari kayu. Yang membuat semakin menarik adalah ada semacam air terjun yang turun ke arah pantainya inilah yang disebut Banyutibo / air jatuh , air yang dari atas ini tidak asin, sedangkan air yang dari lau asin jadi ketika bermain air di bagian pantai bisa sekaligus merasakan 2 air yang berbeda. Ketika kami sampai sana ombak sedang pasang, jadi pengunjung belum boleh turun ke pantai sampai gelombangnya agak surut, jadi kami menikmati laut dari atas tebing. Siang itu panass sekaliii dan melipirlah kami ke salah satu warung untuk meikmati kelapa muda sambil menunggu air agak surut.



Semakin siang semakin panas, akhirnya saya memutuskan untuk mandi. Oiya saya ga ikut turun ke pantainya karena males bawa bawa baju basah pas pulang haha cupuu. Jadi habis mandi dan sholat dhuhur saya lihat teman-teman yang di pantai dari atas. Kata teman-teman yang turun, di bawah seger banget ga kerasa panasnya, apalagi pas di bawah guyuran air terjun mantap betul katanya, sempet nyesel karena ga ikutan turun tapi rasa ga pengen riweuh bawa bawa baju basah lebih kuat wkwk. Setelah semua beres main air dan bebersih kami menuju ke parkiran untuk selanjutnya ke destinasi terakhir, Pantai Buyutan.


Hampir sama dengan Banyutibo, di Pantai Buyutan dari tempat parkir kami harus jalan turun untuk ke pantai, bedanya jalan di Buyutan jauuuh lebih jauh eh gimana sih haha ya gitu. Ada 2 jalur, untuk pejalan kaki dan untuk motor, yang ga kuat jalan atau sedang saving mode, bisa loh naik ojek untuk turun atau naik. Dan untuk pejalan kaki , rute jalannya cakep macam tembok china haha, dan sepanjang jalan pemandangannya cakep bener jadi ga kerasa capeknya. Sampai di bawah kami makan dulu di salah satu warung, kami meminjam tikar untuk digelar di depan warung semacam biar kerasa pikniknya yekann. Tak ketinggalan sisa sarapan yang tadi pagi juga diboyong haha. Menu andalan : indomiee seleraku, walau ada yang mie sedaap sih karena indomie nya habis haha.

Setelah makan dan sholat asar, kami kemudian main-main di tepi pantai. Tidak seperti sebelumnya di Pantai Buyutan, kali ini main aman aja ga ada yang bebasahan, eh ada ding azzam sama ayah bundanya ehe. Pantainya bersih dan tak begitu padat orang. Pantainya bersih, luas, dan pasirnya tipe pasir putih hasil pecahan karang-karangan. Puas main dan waktu sudah menjelang sore, jadilah kami mulai naik ke parkiran. Siap-siap harus jalan menanjak lagi, iya saya pulang perginya jalan kaki dong. Pulangnya azzam ikut saya, jadi bayangin aja gimana kalo anak kecil bisa melewati jalur ini dengan santuy dan sedikit ngos ngosan tanpa digendong.


Di jalan pulang kami mampir toko oleh-oleh sekalian sholat maghrib. Fun fact, info dari temannya mbak Mamik yang juga temannya mas Arwan bilang kalo ternyata Mas Arwan ulang tahun, lalu isenglah temen-temen, beres sholat dan beli oleh-oleh begitu mas Arwan masuk mobil kami serentak nyanyi lagu ulang tahun rame banget disusul obrolan-obrolan yang bikin makin rame ini mobil. Momen yang aling saya suka ketika berpergian adalah ketika momen bincang bincang rame di mobil, bisa ketawa sampe mau nangis haha. Sampe akhirnya yang awalnya kami iseng2 bercanda minta ditraktir eh beneran dong kami dapet uang tambahan buat makan malam dari mas Sopir terharuu, mana ketika di Pantai Buyutan kami dibayarin biaya masuk dan parkir pula, ini beneran ga boncos apa gimana yak haha, tapi Alhamdulillahh dipertemukan dengan orang-orang baik. Oiya kami akhirnya makan malam di Penyet Suroboyo Solo karena malam itu sudah larut sekali jadi mana yag masih buka, disitu kami mampir. Setelah kenyang dan senang serta sedikit ngantuk sampailah kami di Karangjati, karena sampai kos Mbak Emma sudah hampir tengah malam jadilah saya nginep di Mbak Emma baru pagi-pagi pulang rumah.

Terimakasih geng rempong tapi gemes sudah merealisasikan piknik suka-suka dengan budget super low 200k udah bisa makan 2 kali segala~, dan ini nagih sekali. Dimana menghabiskan waktu bersama di alam terbuka jauuuuuuuuh lebih menyenangkan dibanding menghabiskan waktu di dalam ruangan kaca aka aquarium (IYKWIM), tapi disanapun menyenangkan sih asal ada klean unch. Then, kapan kita kemana?



With Love,
Lina Listya
























Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bandung,19-20 Agustus 2019

Hari dimana harus checkout dari bobobox ketika lagi sayang sayangnya(?), dua hari nginep disini rasanya sungguh sangat kurang gasih harusnya seminggu kayaknya ahaa. Hari itu saya dan Mb May akan Ke Kawah Putih. Sesungguhnya ini adalah tujuan utama kami, terutama saya. Karena dari dulu pingin ke Bandung karena pingin ke kawah putih, semenjak nonton film “Heart” haha inget kan yang adegan Nirina Zubir lari larian di hutan mati nya wkwk jadul amat ya referensi nya. Oke back to the topic,selesai packing kami keliling sebentar di area bobobox untuk mengabadikan setiap sudutnya yang kece itu.
Ryan : “Din, lin maaf”
May : “ iyaa ryaaan ndk papaaa…kau di kos ajaaa hehehe. Doain kami slamet :D”
Lin : “Mas nanti kita mampir ya nitip barang barang”
Ryan : “Ya. Da mendingan”
May : “Da jadi makan pisang??”
Ryan : “abis lari2 cek kondisi tubuh dan perut. Kalian dimana”
May : “di Hotel”
Ryan : “niceeeee”
May : “paling jam 9an otw”
Ryan : “kemarin aja bilang habis subuh “
May : “ sebelum dhuhur itu = sehabis subuh kan? “
……
Niat berangkat habis subuh pun hanya wacana,karena sekitar jam 6an kami baru beres foto foto, jadi habis subuh adalah sebelum dhuhur haha. Ini akan menjadi rute perjalanan terjauh dibanding 2 hari sebelumnya karena kami akan mlipir ke kabupaten bandung, Ciwidey. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 1.5 jam dari Bobobox. Tetapi kami akan mampir ke kos Mas Ryan dulu untuk titip barang barang. Sekitar hampir pukul 10 saya dan Mbak May baru keluar dari Bobobox. Sampai di Kos mas Ryan dia masih santuy kita kira gajadi ikut karena blm siap siap . Setelah memastikan perut aman, akhirnya dia ikut.

Sambil menunggu mas Ryan siap siap. Saya dan Mbak May cari sarapan. Kami beli semacam lontong tahu apaya lupa namanya haha. Tentu yang 1 ga pedes walaupun sebenernya mau kita kasih yang paling pedes tuh tapi males aja kalo harus berhadapan dengan urusan perut lagi yakan. Beres makan dan siap siap kami berangkat setelah sebelumnya mampir ke kos baru mas Ryan. Sesungguhnya dia harusnya udah pindah per hari itu tapi ngeles aja nunggu besoknya. Tapi dengan begini saya dan Mbak May beruntung karena di kos yang baru ga boleh bawa orang,apalagi orangnya riweuh gini haha.

Perjalanan dimulai dengan berpedoman google maps. Jalanan lancar karena memang hari itu Senin, cuaca super cerah tapi ga sepanas Semarang tentunyaa. Karena kami menuju ke ciwidey, sepanjang jalan banyak disuguhi perkebunan. Paling banyak perkebunan stroberi yang sebagian besar digunakan untuk wisata petik buah. Makin kesini udara makin sejuk, pepohonan rindang, jalan berkelok naik turun tanjakan, sesekali ada warung lesehan jagung bakar. Sempurna!.

Akhirnya kami tiba di area pintu masuk Kawah Putih beberapa saat sebelum dhuhur. Setelah parkir motor, menitipkan helm, dan meninggalkan barang barang yang tidak perlu dibawa, selanjutnya kami menuju loket untuk membeli karcis masuk dan bertanya apakah di atas ada tempat sholat dan ternyata ada jadi kami memutuskan untuk sholat di atas saja. Harga tiket Rp 25,000, serta ongkos ontang anting Rp 20.000 ,yaitu kendaraan yang akan mengantarkan kami menuju Kawah Putih. Kendaraan ini mirip angkot yang dimodifikasi menjadi setengah terbuka. Sebelum berangkat dengan ontang-anting, kami harus menunggu beberapa saat hingga kendaraan ini penuh.

Petualangan dimulai, ceilahh. Ada sensasi tersendiri ketika naik ontang anting ini, apalagi untuk yang duduknya dipojokan. Bayangkan angkot yang setengah terbuka dengan penumpang yang penuh melewati hutan dengan jalan menanjak yang terjal, dan tentu saja dengan kecepatan super. Perjalanan ini memakan waktu tak kurang dari 15 menit. Sesampainya di pemberhentian ontang anting, kami bergegas untuk mencari letak mushola dan toilet di peta super besar tapi cukup membingungkan, entah apakah ini efek dari perjalanan barusan yang mobat mabit atau memang petanya yang tidak mudah dimengerti haha.


Usai sholat dhuhur kami mulai jalan menuju Kawah. Udara disini panas tapi sejuk, jadi siap siap amunisi untuk mengurangi kegosongan haha. Bau belerang sudah mulai tercium, menurut Mbak May baunya ga sepekat yang di Dieng, tetapi karena saya belum pernah ke Kawah yang di Dieng jadi menurut saya bau belerangnya cukup menusuq. Untuk turun ke Kawah kami harus melewati anak tangga yang cukup banyak. Siang itu pengunjung tak begitu banyak, sesekali berpapasan dengan turis bule. Ketika kami menuruni tangga dan kawah mulai terlihat sungguh pemandangannya membuat kami terpesona,  menurut saya ini magis dan megah sekali. Atmosfernya membuat setiap sudutnya terkesan eksotis, kalo di foto pasti bagus gitulhoo. Hamparan kawah luasss, hutan mati, langit birunya huaaa pengen lama lama disini ga sih tapi gabisa dan memang tidak diperkenankan berlama lama disini. Kenapa? Karena bisa mabok bau belerang. Nah untuk mengatasi hal yang tidak diinginkan, setiap beberapa waktu ada semacam himbauan untuk tidak terlalu dekat dengan kawah, dan ketika sesiapa saja yang mulai merasa pusing, mual dan gejala lain yang disebabkan karena bau belerang sebaiknya mulai menjauh dari kawah.

Oiya ketika di kawasan kawah ini, kita bisa berfoto di atas semacam jembatan tengah kawah tetapi harus membayar tiket tambahan dan waktunya terbatas, karena jelas di tengah tengah kawah, bau belerang akan semakin kuat. Jembatan menuju tengah kawah ini terbuat dari kayu yang beberapa bagiannya sudah miring jadi kebayang rada rada deg deg an kalo terlalu ke pinggir atau ketika papas an dengan orag lain. Terus sempat kepikiran pula ini pas buat jembatan prosesnya gimana yak, kan ga boleh kena belerang orangnya?? Terus ini kan belerang panas yak terus kayak menguap gitu karena ada asap-asapnya , tapi kok ga habis habis yaa?? Ada yang bisa jawab? Haha.




Sampai di tengah kawah, makin makin berasa eksotisnya ditambah sepoian angin pula. Setelah puas berfoto dan karena gentian dengan pengunjung lain, kemudian kami kembali ke tepi, di area hutan mati. Makin dinikmati, malah pesonanya semakin menjadi jadi nih. Tapi karena kami sudah cukup lama di dekat kawah dan mulai sedikit pusing, lagi lagi entah ini akibat bau belerang atau karena kelaparan kami tak tau yang jelas kami beranjak menjauh dari kawah, kembali menaiki anak-anak tangga dan mulai kehausan. Oiya di kawah putih ini juga ada semacam jalur untuk menikmati kawah dari atas, biasanya  jalur ini untuk lansia. Sebenernya cukup penasaran tapi karena sudah ngos ngosan jadilah kami bergegas menuju toilet untuk kemudian turun ke area pintu masuk dengan kembali menaiki ontang-anting.

Sampai di bawah, kami lalu menuju ke salah satu warung makan yang cukup menarik perhatian karena penataan ruangnya dibuat selayaknya kafe kafe hits tapi lebih sederhana. Setelah melihat daftar menu yang cukup banyak namun banyak pula yang kosong, akhirnya kami pesan makanan andalan di setiap suasana. Indomiee selerakuuu~ dengah telur setengah mateng dan irisan cabe. Sambil makan sambil mengecharge hp dan kamera untuk prsiapan ke destinasi selanjutnya. Beres makan kami menuju ke parkiran untuk sholat di mushola dekat sana. Di tengah jalan ternyata banyak sekali penjual stroberi dan blueberry, karena menggiurkan akhirnya saya membeli 1 bungkus seharga RP 10.000 saja dengan isi yang menurut saya banyak huaaa kalo di semarang pasti harganya jadi beberapa kali lipat. Setelah dicoba ternyata memuaskan, manis, asem dan seger banget. Menyenangkan! . eh eh tunggu sebentar, ternyata kunci motor mas Ryan ga ada di genggaman pun di semua tas yang kami bawa. Masa iya kecemplung di Kawah? Atau jatuh pas naik ontang anting dan nyangkut di semak belukar? Setelah sebelumnya kaca mata saya yang entah berada dimana setelah tadi dipake mas Ryan (kemarin kayaknya udah ikhlas tapi begitu nulis ini dan keinget lagi kok jadi ragu ragu ikhlasnya hmmmmm) sekarang malah kunci motornya yang ga ada.


Kami mencoba tenang sambil Mas Ryan mengingat ingat kembali kronologi hilangnya kunci motor tapi ya tetep aja ga inget. Setelah sampai ke tempat parkir dan bertemu bapak parkir yang tadi pagi lalu bertanya tentang kunci motor, tentu dengan ditanya ini itu akhirnyaaa ketemu! Ternyata memang ketinggalah di jok motor pagi tadi. Alhamdulillah bapaknya baik hati dan Mas Ryan ga jadi menyelami kawah, tak lupa ucapan dan tanda terimakasih kepada bapak parkir. Setelah drama perkuncian berakhir dan usai sholat asar. Kami membeli stroberi lagi karena enaaak. Sempat ditawari ibu ibu yang keliling tetapi ketika dilihat lagi dengan harga yang lebih mahal tetapi isinya malah lebih sedikit dibanding yang pertama saya beli. Akhirnya balik ke penjual yang sebelumnya.

Dari kawah putih ke Ranca Upas ternyata deket banget, 2 menitan mungkin. Dari pintu masuk ke loket cukup jauh dengan jalanan bebatuan yang terjal. Bagi yang belum tau, Ranca Upas adalah tempat penangkaran rusa, disini juga terdapat camping ground yang cukup luas. Kalo dilihat dari postingan di Instagram, rusa rusa di Ranca Upas ini terlihat jinak dan bersahabat, jadi mari kita buktikan. Setelah membayar tiket masuk Rp 15.000/orang dan parkir motor Rp 5.000, kami menuju ke tempat rusa. Jika ingin memberi makan rusa, di depan kandang disediakan pakan berupa kangkung dan wortel yang bisa dibeli karena tidak diperbolehkan memberi makan rusa dari luar.






Untuk ke tempat rusa, kami melalui semacam jembatan yang cukup tinggi. Dari atas terlihat beberapa pengunjung yang sedang berinteraksi dengan rusa. Ada yang sedang asik memberi makan bahkan dikejar. Bagi saya yang tidak terbiasa dekat dengan binatang akan butuh waktu cukup lama untuk akhirnya bisa turun untuk membaur bersama rusa-rusa itu. Ternyata Mb May juga takut untuk langsung turun, kami mengamati dulu bagaimana sesungguhnya rusa rusa ini apakah benar benar ramah dan bersahabat, ataukah kami yang masih menutup diri haha. Mas Ryan membeli beberapa ikat kangkung dan mulai mencoba berinteraksi, diikuti saya dan Mbak May yang masih takut takut, ternyata sungguh bagi kami ini tak semudah yang ada di feed Instagram orang-orang zaenabbb.

Rasa hati ingin lari lari tertawa anggun dengan rusa-rusa ini, tetapi kenyataannya didekati aja udah jejeritan. Disini ada banyak sekali rusa, mulai dari yang kecil sampai yang sudah tua dan membatasi geraknya. Rusa-rusa yang sudah berumur hanya duduk dan memakan rerumputan yang ada disekitarnya, tak seperti rusa-rusa yang masih muda dan gesit berlarian kesana kemari. Hari sudah semakin sore, dan ternyata kabut mulai turun membawa hawa dingin, kami beranjak pulang.



Yang awalnya masih ingin jalan-jalan di kota sepulang dari ciwidey, begitu sampe di kos mas Ryan ternyata kami udah mager parah. Jadilah sebelum saya dan Mb May memindahkan foto dari kamera ke berbagai memori penyimpanan karena file yang super banyak. Rencana awal saya dan Mb May akan ke stasiun tengah mala mini sehabis kota-kota, tetapi karena kami batal kota-kota karena lelah sekali, apalagi Mb May yang seharian nyetirin huhu, akhirnya setelah mempertimbangankan ini itu jadilah kami bermalam di mushola yang lebih mirip gudang di lantai atas. Cukup bersih hanya saja banyak sekali barang barang karena memang sedang proses renovasi sepertinya. Ada kejadian yang sampai sekarang masih bikin penasaran pas bermalam disini. Kapan waktu Mas Ryan pernah bilang kalo dia sering kebangun dan denger suara adzan padahal pas lihat jam ternyata masih dini hari, jauh sebelum waktu subuh. Nah ternyata beneran dong, dini hari saya kebangun dan ada adzan pikir saya Alhamdulillah udah pagi, udah waktunya kemas2 buat ke stasiun, ehh ternyata baru jam 2an. Dan ternyata Mb May juga mendengar adzan Cuma sepertinya kami kebangun di jam yang sedikit berbeda. Aneh aja sih itu siapa pula yang adzan jam segitu eh.

Akhirnya pagi beneran datang, saya dan Mb May bergegas turun lalu siap-siap ke stasiun. Karena masih dini hari, kami salah jalan. Drama lagi ulalala. Yang harusnya saya janjian dengan bapak penyewa motor di depan stasiun, eh kami malah nyasar ke stasiun pintu belakang. Untung bapaknya baik mau nyamperin huhuhu. Dan drama belum berakhir dong, karena kami di pintu belakang, sedangkan kereta kami lebih dekat dijangkau dari pintu depan, jadilah kami berlari lari keluar masuk dari gerbong satu ke gerbong lain. Belum lagi kami belum sempat beli oleh-oleh , wis intinya pagi itu berasa di film film yang last minute baru beli oleh oleh, 5 menit sebelum kereta berangkat masih lari larian naik turun gerbong haha. Seru, eh krembiss. Alhamdulillah ga sampe ketinggalan kereta, sedari tadi berasa tahan napas, baru begitu ketemu tempat duduk kami bisa bernapas legaaa. “Bandung, ku pasti kembali~ “

Best Regards,
linalistya

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me

Seorang Introvert yang akan menjadi Ekstrovert ketika bertemu manusia sejenis.

Total Pageviews

Categories

knowledge my story pernak pernik stuff travelling tutorial

Popular Posts

  • Sejenak menikmati Malang di MADOR (Malang Dorm Hostel)
    Jumat, 18 Agustus 2017 Saya dan Dilla tiba di stasiun Malang sekitar pukul 2 pagi, dari pembicaraan kami dengan para driver go c...
  • AKHIRNYA, BROMO !
    18-19 Agustus 2017 okay, ini sudah terlalu lama untuk melanjutkan cerita, tapi tetep harus ditulis biar ga nyesel kalo pengen nging...
  • MERDEKA DI SURABAYA
    17 Agustus 2017 kami tiba di Stasiun Pasar Turi pukul 12.24 siang. Rencana sebelumnya destinasi tujuan saya dan Dilla di Surabaya ada...
  • Simple Drawing with Adobe Flash Professional CS6
    Pada post kali ini saya akan menunjukkan langkah-langkah pembuatan objek sederhana menggunakan Adobe Flash Professional CS 6. T...

Blog Archive

  • September 2020 (1)
  • May 2020 (1)
  • November 2019 (3)
  • October 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • August 2019 (1)
  • September 2018 (2)
  • August 2018 (2)
  • December 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • August 2017 (4)
  • July 2017 (3)
  • March 2016 (3)
  • February 2016 (2)
  • February 2015 (1)
  • December 2014 (1)
  • September 2014 (1)
  • August 2014 (1)
  • June 2014 (2)
  • April 2014 (1)
  • March 2014 (1)
  • January 2014 (3)
  • October 2013 (2)
  • July 2013 (3)
  • June 2013 (2)
  • April 2013 (1)
  • March 2013 (2)
  • February 2013 (1)
  • December 2012 (1)

instagram

Created with by ThemeXpose | Distributed By Blogger Templates20