Powered by Blogger.

Afternoon Sky


17 Agustus 2017 kami tiba di Stasiun Pasar Turi pukul 12.24 siang. Rencana sebelumnya destinasi tujuan saya dan Dilla di Surabaya adalah ke Tugu Pahlawan dan Museum Sampoerna dengan pertimbangan jaraknya cukup dekat dengan Stasiun. Namun setelah kami pikir lagi ada kendala dengan barang bawaan kami yang tak mungkin kami bawa berkeliling. Beberapa jam sebelum sampai di Surabaya ketika saya berkabar dengan teman saya, Hepta yang akan menemani kami selama di Surabaya, dia kemudian menawarkan kami untuk transit di kosnya yang memang sedikit agak lebih jauh dari rencana destinasi kami. Kos Hepta berada di Daerah sekitar ITS yang berjarak sekitar 30 menit dari Stasiun Pasar Turi dengan kendaraan.

Usai sholat dhuhur kami melanjutkan perjalanan ke ITS, dimana saya dan Hepta akan bertemu. Kami memilih untuk naik go-car karena kata Hepta di Surabaya jalur angkutan umum rada ribet selain itu sepertinya memang lebih nyaman dengan go-car. Driver pertama yang mengantar kami di Surabaya tak begitu banyak bicara, hanya sesekali saja, jadilah saya dan Dilla yang asik ngobrol absurd sambil taking video selama perjalanan untuk vlog Dilla.




Kesan pertama di Surabaya adalah panas. Lebih panas dari Semarang, jadi mungkin kalau ingin ke Surabaya bisalah menyesuaikan pakaian dengan pakaian yang mudah menyerap keringat biar ga begitu gerah. Akhirnya hampir 30 menit berlalu, sampailah kami di masjid Manarul, ITS. Tak lama kemudian Hepta datang dengan motornya. Karena motor hanya 1 jadilah kami gantian diboyong ke kosnya Hepta. Sembari menunggu dijemput lagi saya menikmati teduhnya masjid Manarul. Menurut saya masjid inilah yang paling bisa meneduhkan di tengah panasnya Surabya. Hijau, teduh banyak suara burung pula, mungkin kalau saya bawa tikar enak banget tiduran di bawah pohon gitu, maklum cupu anaknya penginnya piknik di bawah pohom sambil tiduran baca buku minum jus alpukat sambil dengerin depapepe sama si jodoh. Oke skip.

Beberapa saat kemudian Hepta datang dan meluncurlah kami ke Kosnya. Sampai disana Dilla lagi koler koler bahagia menikmati kipas angin setelah kepanasan. Sambil ngadem dan melepas rindu *ceilah maklum saya dan Hepta terakhir ketemu tahun lalu ketika buka puasa bersama di SMP* kami merencanakan destinasi yang akan kami kunjungi selama di Surabaya. Namun sebelumnya Hepta menyarankan agar kami makan siang dulu sebelum menjelajah. Oiya kali ini Hepta meminjami kami motor teman kosnya Alhamdulillaaah.

Dimanapun dan kapanpun, makanan yang rasanya ga pernah mengecewakan atau pilihan paling aman adalah BAKSO haha. Kami di antar ke sebuah foodcourt dengan bermacam pilihan menu, namun tetap dong setia sama bakso. Saya memesan bakso dan Dilla Ramen Jamur sementara Hepta ternyata sedang puasa, duh salah hari nih maafkan ya Hep haha *kemudian lanjut makan dengan lahap*. Ternyata bakso yang saya pesan agak bereda dengan bakso yang biasa saya makan. Kalau bakso biasanya menggunakan sayur sawi sebagai pelengkap, bakso di Surabaya ini menggunakan daun selada sebagai pengganti sawi. Sama sama enak sih apalagi jika memang sedang lapar hmm.





Selepas asar kami melanjutkan perjalanan ke Kenjeran Park yang letaknya tak jauh dari ITS. Kalau boleh saya bilang, Kenjeran Park ini semacam perpaduan Antara Wonderia-PRPP-Maerakaca-Dan Sampokong. Tempatnya luas banget namun beberapa tempat masih terbengkalai dan kurang bersih, tapi ada juga yang masih terawat dengan bagus.

Di gapura pintu masuk kami disambut dengan patung karakter anak anak dan semacam lambang klenteng. Kami dikenai biaya masuk Rp.15.000 per motor. Di dalam Ken Park ada istana semacam Disney versi Indonesia di area waterboom, kemudian ada wahana wahana warna warni. Kami banyak melewati tanah kosong yang sudah ditumbuhi semak semak di sepanjang jalan Ken Park sebelum akhirnya sampailah kami di tempat yang dimaksud Hepta. Yaitu patung dua naga dengan bola api, panjang amat yak. Jadi sebenarnya ini tempat semacam klenteng yang masih digunakan untuk beribadah karena di halaman depan masih banyak sekali jamaah dan bau dupa dimana mana. Sore itu banyak orang disana mungkin karena memang libur panjang. Jadilah kami tidak bisa leluasa untuk berfoto tanpa background lalu lalang banyak orang.







Kami berkeliling di sekitar patung naga dan melihat hamparan lautan lumpur. Saya kira adalah laut yang surut karena musim kemarau, ternyata memang itu adalah semacam lumpur. Dan ternyata jika dilihat dari dekat di tepi lautan lumpur itu banyak sekali taburan bunga mawar. Mungkin semacam persembahan gitu kali ya. Sementara di sebelah selatan patung dua naga terhampar hutan bakau yang menurut saya serasi sekali dengan hamparan lumpur yang di beberapa bagiannya terdapat kubangan air yang membentuk seperti jalan. Dan suasana sore itu semakin merdu ketika mulai banyak burung bangau berterbangan di sekitar lautan lumpur.

Setelah puas berfoto dan menikmati sore dari sisi timur, yaitu patung dua naga yang sebenarnya akan lebih cantik lagi ketika dinikmati pagi hari sembari menunggu sunrise, kami berpinda ke seberang klenteng patung dua naga menuju semacam klenteng juga yang lebih mirip ke pagoda. Dimana ada patung besar berwarna keemasan. Kalau dilihat lihat suasananya mirip di foto foto Thailand. Di tempat ini juga masih digunakan untuk beribadah. Jika patung dua naga adalah tempat yang tepat untuk menyaksikan sunrise maka pagoda ini adalah tempat dimana sunset terlihat sangat menarik, karena memang dua tempat ini saling berseberangan.


sumber : google.com




Sebelum maghrib kami sudah meninggalkan Ken Park dan menuju ke FoodFest daerah Pakuwon yang juga tidak jauh dari kompleks ITS. Kali ini hanya saya dan Dilla yang plesir disini karena Hepta ada acara dengan temannya. Jadilah kami membolang berdua. Disinilah kami bisa menyimpulkan bahwa Surabaya adalah Surganya pecinta kuliner. Bahkan di dalam mall pun, hampir didominasi oleh makanan. Mulai dari minuman yang beraneka macam dan packagenya lucu hingga dessert dan makanan berat yang benar benar menggoda, tapi harus tetep rem dong kembali lagi kami adalah backpacker dengan modal pas pasan. Di sana kami hanya membeli minum untuk sekedar melepas dahaga.





Sekitar pukul 19.30 kami memutuskan untuk kembali ke kos dan bersiap ke Stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Berbekal google maps, setelah kami agak berputar putar akhirnya sampailah di kos. Sambil menunggu Hepta pulag kami mulai beberes barang barang bawaan dan mandi. Usai mandi dan sholat isya sekitar pukul 21.30 kami akhirnya mennggalkan kos, big thanks untuk Hepta yang sudah bersedia kami repotkan. Jangan kapok ya Hep hehe.

Jadwal kereta kami jam 00.21, masih ada beberapa jam sebelum keberangkatan untuk mencicpi kuliner khas Surabaya. Dilla yang sebelumnya pernah ke Surabaya menyarankan sate klopo yang ada di Jalan Ondomohen. Dari kos menuju Ondomohen kami kembali naik go-car. Dan disinilah kami berbincang banyak hal dengan drivernya. Mulai dari yang tetiba ngomongin politik sampai pengalaman mendaki gunung lawu, karena ternyata si bapak driver ini adalah anak pecinta alam semasa kuliah, sampai serunya pengalaman di bromo. Setengah jam berlalu, tanpa terasa kami sudah berada di jalan Ondomohen.

Malam itu sepanjang jalan Ondomohen tak begitu ramai, banyak took yang sudah tutup atau bahkan libur di hari itu. Sempat mengira kalau tempat sate klopo juga tutup sebelum akhirnya kami menemukan kemelun asap dari bakaran sate klopo yang khas.

Saya tidak pernah membayangkan bagaimana sate klopo itu, yang ada hanya rada aneh klopo/kelapa kok disate duh. Karena penasaran dan lapar tentunya jadilah semakin ga sabar untuk mencicipi. Malam itu saya memesan 1 porsi sate klopo ayam dan Dilla memesan sate klopo sapi. Jika dilihat dari banyaknya pengunjung yang silih berganti berdatangan bisa disimpulkan kalau satenya enak. Dengan suasana ruangan penuh asap kami menikmati sate yang masih hangat. Ternyata sate klopo adalah sate daging yang dibalut dengan parutan kelapa (kalau saya ga salah haha) yang memebuat rasa satenya menjadi begitu gurih. Oiya sate klopo ini dinikmati tidak dengan menggunakan lontong melainkan memakai nasi dengan tambahan parutan kelapa yang sudah di sangrai atau di srundeng. Sebenarnya ini kali pertama saya makan sate dengan nasi karena sebenarnya lebih suka dengan lontong, namun diluar dugaan justru sate klopo ini memang sangat pas jika disandingkan dengan nasi.





Satu porsi sate ayam yang berisi kira kira 10 tusuk, ditambah nasi dan segelas teh dibandrol seharga Rp 28.000. overall saya merekomendasikan teman teman untuk mencobanya. Diluar tempat yang dipenuhi asap bebakaran satenya, ini tempat oke lah.

Usai makan, kemudian kami menuju stasiun untuk cetak tiket kereta. FYI, saya juga baru tau kalau sekarang tiket kereta api hanya bisa dicetak di stasiun keberangkatan. Karena stasiun keberangkatan kami malam itu adalah dari Pasar Turi jadi kami hanya bisa mencetak di Stasiun Pasar Turi.
Masih ada waktu sekitar satu setengah jam sebelum kereta datang. Kami menunggu sambil beristirahat sejenak dengan dikerumuni nyamuk yang entah kenapa banyak sekali dan kami lupa membawa lotion anti nyamuk. Jadi untuk teman teman yang akan melakukan perjalanan dan sepertinya akan melewati masa meunggu kereta tengah malam jangan lupa membawa lotion anti nyamuk agar waktu tunggu kalian menjadi lebih nyaman.




Menikmati hari kemerdekaan di Kota Pahlawan meninggalkan kesan tersendiri untuk saya. Disinilah saya melihat banyak kultur budaya dan agama saling berdampingan. Tak peduli hidung macung atau mata sipit, kulit hitam atau putih. Menurut saya Indonesia adalah ragam suku bangsanya, ragam budayanya, ragam bahasanya , ragam cita rasa makanannya dan ramah tamahnya. Merasa memiliki Indonesia berarti melindunginya dari berbagai gangguan, merasa memiliki adalah tidak merusak namun merawat dan melestarikan. Karena yang memiliki adalah kita maka yang berkewajiban melindungi adalah diri kita sendiri bukan dia atau mereka. Selamat berjuang menuju kemerdekaan diri sendiri dan Indonesiayang nyata. Sampai jumpa di cerita berikutnya !

Regards,
Lina Listyawati
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Oke mungkin di post kali ini akan ada banyak cerita, semoga masih bisa menceritakan secara runtut dan ga bikin bingung haha. Jadi tanggal 12 Agustus kemarin itu ulang tahun Dilla, seperti biasanya saya Anisa dan April sudah merencanakan beberapa surprise dan selalu gagal bhak. Dengan bantuan Kunthi akhirnya kami memutuskan untuk ngasih kado si Dilla clutch, dan belilah kami di olshop. Bahkan saya sudah bilang kalau pengirimannya diatur agar bisa sampai tujuan sekitar tanggal 12 Agustus dan adminnya bilang oke bisa. Nah selang 2 hari sekitar tanggal 5 Agustus kalau ga salah, Dilla heboh di grup bilang kalau dapat kiriman tapi namanya dia, awalnya kita selo aja karena dia gatau itu dari siapa dan cerobohnya nomor telepon yang tertera adalah nomor saya blarrr oke ketahuan di tanggal yang masih jauh dari hari H. Awkward, dah biyasa.



Di hari H saya dan April sama sekali ga kontak Dilla bahkan grup sepi. Sampai sepertinya si Dilla rada gemes dan bikin story. Sebenarnya hari H kami bertiga berencana buat nginep di rumah Dilla, namun karena ternyata April gabisa pulang akhirnya kami buat rencana lain. Yaitu Anisa dan April akan datang ke stasiun buat nganterin saya dan Dilla ke Surabaya, tentu ini rencana surprise. Hari H-2 ke Surabaya Anisa ngajakin kita buat ganti planning nginep di Dilla malam sebelum kami berangkat ke Surabaya, namun apa boleh buat malam itu saya ikutan jadi panitia malam tirakatan 17 Agustus di rumah dan April baru sampai Semarang malam banget. jadilah kami ke rencana awal. Sempet ragu karena kereta kami berangkat pukul 08.11 pagi, jadi setidaknya kami hanya punya waktu setengah jam sebelum berangkat untuk menuntaskan misi.

Hari itu saya berangkat dari rumah sekitar pukul setengah 6 pagi, beruntung sekarang sudah ada BRT Jateng dengan rute Terminal Bawen – Stasiun Tawang. Jalanan sepi lancar hanya ada beberapa orang yang bersiap upacara 17 Agustusan. Sampai di daerah sebelum Jatingaleh BRT terjebak macet hampir setengah jam yang harusnya saya sudah sampai stasiun jam 7 harus rela molor setengah jam. Anisa dan April sudah sampai duluan, begitu Dilla. Hari itu juga saya janjian ketemu sama mbak May yang sekalian mau ambil orderan KanaKina. Bahkan mbak May datang lebih awal banget sebelum kami jadi sebelum kami datang Dilla sudah duluan ketemu sama mbak May. Ketika mereka ngobrol datanglah kami yay. Surprise mayan berhasil lah~ ulala.


Seru juga diantar di stasiun sama orang orang tergemas. Walaupun kami hanya sempat bertemu sebentar but it was fun. Setelah berfoto ria dan makan bolu yang dibawa ibu Aprilia akhirnya kami berpisah untuk kemudian naik kereta ke Surabaya.

Beberapa bulan sebelumnya saya mengajak Anisa, April, Dilla untuk liburan. Namun apa boleh buat, di tangal dimana saya ingin pergi Anisa baru saja pulang dari Bali dan April belum boleh cuti. Jadilah saya hanya pergi dengan Dilla. Bahkan sebelum saya fix pergi untuk liburan ini ada banyaak sekali drama. Drama pertama adalah hilangnya kereta Matarmaja. Oke saya tekankan liburan ini adalah liburan ala backpacking dimana ketika membeli kereta yang pertama kali dilihat adalah harga :’D maklum kami ini pekerja sekaligus pelajar yang masih harus benar benar menekan biaya tsaaah. Yang kedua adalah drama pengajuan cuti. Saya memberanikan diri untuk mengajukan cuti 2 hari dimana pengajuan cuti dua hari adalah nyaris haram, bahkan setelah beradu argument dengan HRD. Awalnya saya sudah pasra boleh atau gaboleh pokoknya harus berangkat karena sudah engap banget dan butuh suasana baru.

Singkat cerita entah apa yang terjadi tetiba seperti alam mendukung perjalanan saya. Dengan mempertimbangkan order factory yang lagi low dan pas banget ibu HRD super itu akan menikah berasa ada aja jalan yang akhirnya berujung, OKE BOLEH CUTI 2 HARI. Aigooo diluar dugaan banget dimana saya sudah berencana bikin Surat Dokter segala kalau kalau ga diijinkan haha ternyata Allah memudahkan hahay. Alhamdulillaaah. Dan selang beberapa hari jadwal kereta Matarmaja muncl kembali dengan harga yang lebih muraah. Parah ini Allah baik bangeet. Jadi planningnya saya dan Dilla akan melakukan perjalanan Semarang-Surabaya-Malang kembali lagi ke Semarang.

Dari Semarang ke Surabaya kami naik kereta Ambarawa Express yang ternyata super nyaman dan bersih banget untuk ukuran kereta ekonomi. Namun drama tak berakhir disini, ternyata tempat duduk saya dan dila berpisah. Oke ini menggelikan, dimana ketika saya memesan tiket via KAI Access tempat duduk kami seharusnya bersebelahan namun aktualnya kami terpaut satu tempat duduk. Antara gemes kesel dan geli sama diri sendiri. Untungnya perjalanan hanya 4 jam.







Saya duduk di sebelah seorang bapak bapak yang ternyata juga pernah kuliah di kampus yang sama dengan saya hanya beda fakultas, dan ternyata lagi beliau juga pernah tinggal di daerah Banyubiru dekat rumah saya, memang semua tak ada yang kebetulan ya kalau dipikir piker haha. Lumayan si Bapak ini turun di Stasiun Lamongan jadi saya bisa sebelahan dengan Dilla sekitar 45 menit sebelum sampai Stasiun Pasar Turi, Surabaya.

Regards,

Lina Listyawati
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ngomongin soal kado kadang bisa jadi pembahasan yang seru. Saya sendiri sebenarnya lebih prefer untuk bebikinan sendiri. Dulu sih alasannya karena masih jaman sekolah jadi benar benar sebisa mungkin menekan biaya diluar kebutuhan primer. Alhasil harus selalu muter otak setiap kali ada sahabat atau orang terdekat ulang tahun.

Tapi rasanya semakin kesini semakin mendarah daging kalau kado yang dibuat sendiri itu akan lebih berkesan dan priceless dengan segala proses pembuatannya. Bahkan kadang bisa jadi ide dagang muehe. Di ulang tahun April dan Anisa karena waktunya mepet jadi cuma bisa cetak foto kita berempat sama bikin printilan yang cepat saji. Intinya temanya foto gitu lah. Nah pas bahas kado buat Dilla akhirnya kepikiran buat buka pinterest lalu nemu semacam photobook unyu. Jadilah akhirnya sepakat buat kasih photobook ala ala.

Bagian yang rada susah adalah mengumpulkan foto lama dan memilih mana yang sekiranya bagus dijadikan photobook. Jadi di photobook ini saya buat semacam satu momen di halaman yang sama. Setelah memilih foto, mengelompokkan moment dan editing sedikit ditambah quotes yang manis manis manjaah selanjutnya adalah design layout cover. Layoutnya simpel tapi tetep gemas untuk selalu dibuka dong. 



yang paling diingat waktu itu adalah ekspresi si Dilla pas ngebuka kado, dia nempel di pojok ruangan terus pas kadonya udah kebuka dia ndlewer dan ingusan haha. Jadi menurut saya sesimple apapun kado itu kalau dibuat dengan sepenuh hati bakal lebih priceless dan memorable.


  


Sincerely,

Lina Listyawati
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Ungaran, 12 Februari 2017

Speechless dengan moment terdrama di awal tahun ini, semacam pindah genre, dari genre aman tentram menjadi genre yang luar biasa diluar dugaan(awal tahun baru niat nulis sekarang bhak ). Oke back to the topic, nah awal tahun lalu saya, linda dan reny adek saya pada akhirnya sepakat merealisasikan sister's camp yang sedari lama memang sudah pingin banget. Menjelang hari H sebenarnya malah jadi galau jadi ga ya jadi ga ya, karena cuaca yang kurang mendukung. Saat itu lagi musimnya angin kenceng dan beberapa kali hujan turun, namun karena ini minggu terakhir saya dan linda libur kuliah jadilah kami memantapkan diri kapan lagi yakan.

Dari beberapa pengalaman sebelumnya saya lebih prefer sewa tenda di camping ground daripada bawa dari bawah belum lagi pasangnya. Jadilah kami dengan percaya dirinya berangkat tanpa bawa tenda. Diluar dugaan yang menurut prediksi saya (anaknya sok jadi macam peramal wk) camping ground bakal sepi karena biasanya puncak ramainya ketika long weekend, kali ini saya sepakat ketika teori “biasanya” tak selamanya valid. Ada banyak sekali rombongan di camping ground Mawar, mungkin jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan karena ternyata memang sedang ada event tanam 1000 pohon.

Mulailah kami panik kalau kalau tendanya habis. Benarlah, usai kami registrasi dan menanyakan ketersediaan tenda hasilnya adalah semua tenda sudah di booking ! Nah tu ini semacam hidup segan mati tak mau, kondisi saat itu angin kencang banget pokoknya ga kebayang kalo harus balik lagi karena jalan yang akan kami lewati begitu curam belum lagi jika tetiba turun hujan.

Tak menyerah sampai disini, saya dan linda juga bertanya tempat sewa tenda selain di basecamp yang tentu dekat basecamp, hampir ada titik terang namun seketika padam lagi ketika si empunya bilang kalau tenda masih basah. Hari semakin gelap ditambah lagi dengan drama lampu padam, satu yang saya khawatirkan adalah si reny. Saya khawatir jika kesan pertama saya mengajaknya ke alam malah berkesan tidak seperti yang diharapkan, saya khawatir jika dia tak mau lagi di ajak ke alam nantinya.

Karena hampir maghrib dan kami belum tau bagaimana nasib kami nantinya hiks, mas penjaga menyarankan kami untuk sementara di salah satu ruangan basecamp yang memang diperuntukkan sebagai tempat rehat para pendaki atau pengunjung.

Usai sholat maghrib kami lalu memutuskan untuk setidaknya melepas lelah dan menyusun rencana kedepannya di ruangan basecamp. Disana kami bertemu beberapa rombongan yang tengah asik bercengkrama sambil sesekali menyesap kopi ala pendaki buatan mereka. Saya dan linda sebenarnya baik baik saja dengan keadaan demikian, namun tampaknya tidak pada si reny. Anak SD yang tampak seperti anak kuliah ini hanya diam saja semenjak kami di dalam ruangan basecamp. Karena saya merasa tak enak akhirnya saya ajak dia keluar untuk melihat pemandangan malam itu. Setelah ngobrol sebentar saya kembali mengajak dia untuk masuk karena angin yang kencang.

Di tengah obrolan saya dan linda, kami sempat bergumam masa iya dari orang sebanyak ini ga ada yang kami kenal. Pasti ada, linda meyakinkan. Dan benar saja tak lama kemudian ketika saya mengamati ke luar pintu basecamp tetiba ada mbak Septi, kakak kelas saya sewaktu SMK. Saya langsung keluar dan menyusulnya untuk menghampiri. Saya tau juga mbak Septi tak bisa banyak menolong karena Dia juga datang bersama rombongan yang tak lain juga kakak kelas saya cuma lupa namanya hehe. Kami mengobrol sebentar sebelum saya kembali lagi ke dalam basecamp.





Sedikit lega ketika saya masuk ke basecamp linda bilang kalau rombongan sebut saja mas A, (kami benar benar tak berkenalan bahkan sekedar tanya nama, obrolan begitu saja mengalir) menawarkan kepada kami untuk ikut gabung di rombongan mereka karena masih ada sisa tenda. Mereka ini asalnya dari Jepara tapi lupa daerah tepatnya hehe. Tak perlu berpikir lama kamipun mengiyakan. Dan tak lama kemudian tenda sudah berdiri di spot best sunrise. Karena di luar gerimis maka kami memasak air di dalam tenda menggunakan nesting dan kompor portable (oke ini sebenarnya tidak disarankan dan kudu tetep hati hati ya), menjerang kopi dan saling bertukar pengalaman.

Baru saja kami menikmati kopi dan sejenak melepas lelah, panitia tanam seribu pohon tetiba menghampiri tenda kami dan beberapa tenda di samping kanan kiri kami kemudian meminta kami untuk bersegera pindah ke kapling yang lain dengan alasan bahwa kapling ini sudah dibooking dari sebulan yang lalu. Oke ini benar benar drama bertubi tubi bhak. Dari kapling atas kami akhirnya turun untuk mencari kapling yang masih kosong ditengah ratusan tenda yang sudah berdiri, diiringi gerimis pula.

Setelah tenda berdiri di kapling yang semoga belum di booking ini akhirnya kami bisa sedikit lega walaupun tetap tidak selega ketika di tenda sendiri. Oke kami merasakan value nya disini. Awalnya saya berekspektasi semuanya akan lancar lancar saja, kami ke camping ground, sewa tenda, tenda berdiri, ngemil jajanan, makan pop mi, berfoto, dan sesi curhat tanpa halangan, namun setelah saya berpikir ulang tentu jika kami tak melewati drama ini saya rasa kami tak akan mendapatkan apa apa selain foto dan cerita kami bertiga. Kami tak akan berlama mengobrol dengan orang baru, kami tak akan pernah tau bagaimana rasanya tak punya tenda ketika angin kencang dan hujan, kami tak akan paham arti nikmatnya berbagi, dan kami tak akan pernah tau bagaimana cara bertahan dalam zona yang tak nyaman dan mungkin tak aman.



Akhirnya pagi tiba, usai sholat subuh dan bebersih kami memutuskan untuk pamit dengan rombongan orang baik dari Jepara. Tak tau lagi harus bagaimana cara berterimakasih kepada mereka selain mengucapkan terimakasih tulus dan tak lupa berfoto ! Apalah arti sebuah nama jika kebaikan mereka yang akan selalu kami ingat. Semoga dapat bertemu dilain kesempatan ya Mas, Mbak semua hehe.





***


setelah berpisah dengan rombongan, kami memutuskan untuk menyusuri area camping ground sambil berfoto tentunya hehe. Nah sebenarnya, sebelum hari H, teman SMP kami sempat memberitahu akan ada event tanan 1000 pohon dan dia ingin bergabung. Kami baru sadar ternyata ini event yang dimaksud.

Sembari sarapan (makan pop mi is one of the best thing that I can do in a camp) di warung warung camping ground kami menyaksikan para peserta tanam 1000 pohon mulai mempersiapkan bibit bibit pohon dan beramai ramai menuju ke lokasi. Dan benar saja kami mengenali beberapa wajah yang ternyata adalah teman SMP kami yang lainnya.







Selepas sarapan, dan ketika hari sudah semakin siang, kami bersiap untuk pulang. Di tengah jalan menuju tempat parkir (pas kami foto foto lagi) akhirnya kami bertemu Munir, teman SMP kami itu. Jadilah kami ngobrol sebentar dan tak terlewat minta tolong difotokan dan foto bersama ehe.

Es krim menjadi penutup hari yang panjang ini, setidaknya meluruhkan sedikit rasa lelah kami. Dari begitu banyak drama yang kami alami kali ini kami mendapat pula banyak pengalaman berharga. Dan tentang mengenalkan alam ke si anak kecil reny menjadi lebih bermakna ketimbang hanya berdiam diri di tenda dan merasakan dinginnya dataran tinggi. Lebih dari itu, semuanya selalu ada value dibalik semua drama ulala. Have a nice day !

Sincerely,

Lina Listyawati
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me

Seorang Introvert yang akan menjadi Ekstrovert ketika bertemu manusia sejenis.

Total Pageviews

Categories

knowledge my story pernak pernik stuff travelling tutorial

Popular Posts

  • Sejenak menikmati Malang di MADOR (Malang Dorm Hostel)
    Jumat, 18 Agustus 2017 Saya dan Dilla tiba di stasiun Malang sekitar pukul 2 pagi, dari pembicaraan kami dengan para driver go c...
  • AKHIRNYA, BROMO !
    18-19 Agustus 2017 okay, ini sudah terlalu lama untuk melanjutkan cerita, tapi tetep harus ditulis biar ga nyesel kalo pengen nging...
  • MERDEKA DI SURABAYA
    17 Agustus 2017 kami tiba di Stasiun Pasar Turi pukul 12.24 siang. Rencana sebelumnya destinasi tujuan saya dan Dilla di Surabaya ada...
  • Simple Drawing with Adobe Flash Professional CS6
    Pada post kali ini saya akan menunjukkan langkah-langkah pembuatan objek sederhana menggunakan Adobe Flash Professional CS 6. T...

Blog Archive

  • September 2020 (1)
  • May 2020 (1)
  • November 2019 (3)
  • October 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • August 2019 (1)
  • September 2018 (2)
  • August 2018 (2)
  • December 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • August 2017 (4)
  • July 2017 (3)
  • March 2016 (3)
  • February 2016 (2)
  • February 2015 (1)
  • December 2014 (1)
  • September 2014 (1)
  • August 2014 (1)
  • June 2014 (2)
  • April 2014 (1)
  • March 2014 (1)
  • January 2014 (3)
  • October 2013 (2)
  • July 2013 (3)
  • June 2013 (2)
  • April 2013 (1)
  • March 2013 (2)
  • February 2013 (1)
  • December 2012 (1)

instagram

Created with by ThemeXpose | Distributed By Blogger Templates20