Powered by Blogger.

Afternoon Sky


Semarang, 23 April 2017

Awalnya sempat bingung pas dapet tugas Bahasa inggris buat video ngobrol sama native speaker karena memang ini pertama kalinya dapat tugas semacam ini ditambah skill Bahasa inggris yang pas pasan banget. ditambah lagi kami hanya bisa mengerjakan tugas tersebut di hari Sabtu atau Minggu jadilah jauh hari sebelum batas waktu pengumpulan kami segera menntukan hari, bagi tugas property dan susun teks.



Hari itu usai ujian tengah semester, kami segera diskusi tempat dan mengatus segala sesatunya. Sangat dadakan karena teks pun baru disusun beberapa menit sebelum in action. Kami memutuskan untuk mencari native speaker di Lawang Sewu yang dekat kampus dan memang sering dikunjungi leh wisatawan asing. Jujur kami tidak berekspektasi apapun, yang jelas ingin segera semua ini usai dengna lancar.

Ketika sampai disana sebenarnya akmi berpapasan dengan pasangan bule hanya mereka tampak buru buru. Sampai di dalam setelah berputar keliling gedung tak ada satupun bule yang kami temui. Hingga kami memutuskan untuk rehat sejenak sembari membaca ulang dan latihan Tanya jawab. Hingga ketika kami hampir menyerah dan pinda ke tempat lain, akhirnya kami bertemu dengan dua turis asing, ayah dan anak.




Makin lega ketika ternyata mereka juga bisa berbahasa Indonesia. Kami yang awalnya deg degan dan rada minder dengan semua ketidaksiapan ini, pada akhirnya ketika percakapan berlangsung suasananya tak setegang yang dibayangkan. Juga obrolan kami banyak sekali yang tidak sesuai dengna teks yang sudah kami susun sebelumnya. Percakapan terjadi begitu saja, mereka hangat dan dengan senang hati menjelaskan apa yang kami tanyakan.

Namanya Pietter dan anaknya Zucker, bule Asal Australia yang telah menetap di Jakarta. Ternyata istrinya adalah seorang Indonesia lebih tepatnya Rembang. Dari percakapan kami beliau bilang bahwa ia senang tinggal di Indonesia karena biaya hidupnya jauh lebih murah disbanding Australia. Juga karena menurutnya banyak hal yang tidak bisa di lakukan di Australia karena peraturan yang lebih ketat. Selain itu ia juga bercerita bahwa mereka senang berkelilig Indonesia, karena Indonesia memiliki banyak sekali tempat bagus.

Ternyata ngobrol sama native speaker itu nyandu, seru banget, mereka welcome banget dan merasa senang karena berasa disambut . yang awalnya malu malu dan takut memulai ternyata ngalir gitu aja. Sampai akhirnya mulai flashback ketika lihat bule dan saya Cuma diem takut nyapa gitu, kalau dipikir kasian banget mereka bertamu tapi didiemin sama yang punya rumah.

Oiya sstu kelompok kami ada tiga orang, aturannya semuanya harus masuk ke video jadi ada satu orang yang ngebnatu taking videonya, awalnya kami berencana buat gentian aja takingnya, eh pas hari H malah mas Yosep dengan senang hati nawarin buat ikutan. Setelah kelompok saya selesai taking giliran mas Yosep yang ngegalau dia pingn sekalian taking juga tapi seperti sebelumnya kami tak menemui bule lagi . mas Yosep udah lilo legowo juga kalo kalo udah ga nemu bule lagi, hingga ketika kami akan pulang si Putri dan Bu Laily ngajak mampir ke gedung semacam perpustakaannya kemudia di sana kami main puzzle. Tak lama ketika kam main puzzle tetiba datang seorang bule cantik ngehampiri kita yang lagi asik main puzzle dan ikutan main puzzle. Beberapa saat setelah itu ternyata datang beberapa bule yang ikutan nimbrung, ternyata mereka adalah keluarga.




Mas Yosep udah mulai seneng tapi gemeteran. Tak ingin melewatkan momen ini saya membujuk mas Yosep dan meminta salah seorang bule tadi untuk diajak bicara. Dengan rada grogi salting gitu mas Yosep mulai ngobrol, gimana ga salting itu anak bule cantik banget. dan ternyata dia sedang pertukaran pelajar di SMA 3 Semarang.

Memang ya ikhlas itu balasannya lebih banyak dan insyaAllah bakal lebih baik, dari kejadian ini aja bisa dibilang begitu ketika mas Yosep bantuin kami taking video sama dua bule ternyata dia yang sebenarnya udah “yaweslah” malah dipertemukan dengan lima bule coba cantik pula hahay.


Sincerely,
Lina Listyawati


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Yogyakarta, 25-26 Maret 2017

Yogya memang selalu terasa istimewa, terlebih ketika pagi hari disambut gerimis manis yang berhasil bikin mager maksimal. Setelah kemarin sore saya haurs berjuang sampai Yogya dengan naik bus. Ini kali pertamanya saya ke Yogya naik bus. Rencana awal saya nebeng Mbak Yusi yang notabene rumahnya memang Yogya, namun apa boleh buat ternyata adeknya mbak Yusi datang ke Ungaran, jadilah saya akhirnya nebeng mbak Nindya yang pulang ke Kebumen, alhasil saya Hanya bisa nebeng sampe Magelang, maka dari itu saya harus melanjutkan perjalanan dengan naik bus. Karena hari sudah sore dan saya yang minim pengalaman dalam per-bus-an maka saya putuskan untung naik bus apa saja yang lewat Yogya karena bus besar Smg-Yogya sudah lama tak lewat.

Ternyata bus yang saya tumpangi hanya sampai Munthilan, beruntung saya bareng ibu ibu yang juga mau ke arah Yogya, setelah menunggu agak lama akhirnya bus berikutnya datang, tepat sebelum maghrib saya akhirnya sampai di Terminal Jombor dan tak lama kemudian Linda datang.

Beruntung hujan sudah reda ketika saya sampai di Yogya. Setelah tiba di kosan,  beberes dan bersih bersih akhirnya kami memutuskan untuk cari tempat makan malam, dan drama dimulai. Ternyata saya lupa bawa atm dan uang cash tinggal beberapa ribu, payah. Bahkan saat itu saya tidak punya sms atau mobile banking, cupu bangeet. Sempat bingung karena Linda juga masih mahasiswa jadi setelah berpikir beberapa saat akhirnya solved (ga usah diceritain ntar panjang yang penting makasih yak :p ).

Akhirnya kami bisa makan malam dengan sedikit lega sambil ditemanin gerimis lagi, bisa ditebak ketika hujan makanan yang paling pas di saya adalah mie ulala. Setelah makan sekitar hampir jam 10 malam saya dan Linda tak ingin melewatkan diskon di Gramedia, waktu itu lumayan diskon 47K, saya dapat buku Doodle Revolution dan Linda dapat Critical Eleven.




Sampai kos Linda, kami segera bebersih dan menempatkan diri di Kasur sambil nonton Lalaland yang katanya bagus banget itu sambil kita berdialog seperti biasanya bicara soal apa aja, ga pernaha ada habisnya kecuali kalo kita tidur haha, karena sudah larut dan kita sudah mulai ngantuk sedangkan film nya belum kelar, akhirnya kita putuskan untuk lanjut besoknya saja.

***

Keesokan harinya, kami berencana untuk ke museum Ullen Sentalu, namun diluar gudaan Yogya diguyur ujan sejak semalam. Pagi itu kami masih tak beranjang dari Kasur sembari melanjtkan film yang belum selesai semalam. Disbanding semalam, pagi itu saya lebih bisa menikmati setiap scene nya, sambil ngemil, sambil dengerin suara gerimis sungguh Yogya terasa lebih lebih lebih istimewa hahaa. Hingga tiba di ending cerita Filmnya yang bikin bengong, bikin porak poranda. realistis banget !

Semakin siang hujan tak kunjung reda, walau sebenarnya Hanya gerimis tapi tetep aja basah. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap keluar setelah sholat dhuhur. Usai makan pagi dirapel makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Ullen Sentalu, cuaca masih mendung tapi Alhamdulillah tidah hujan. Dari daerah Monjali ke Ullen Sentalu sekitar setengah jam. Dan karena kami sama sama belum pernah kesana jadilah hanya mengandalkan google map dan sesekali bertanya ke orang.

Sebenarnya saya rada ngeri pas lihat foto foto museum Ullen Sentalu di internet kesannya singup gelap gitu karena memang letaknya di lereng gunung dan banyak pepohonan. Juga saya penasaran karena tak banyak informasi foto mengenai museum itu.

Setelah parkir motor, kami menuju loket. Kami dikenakan biaya 30k per orang, itu sudah termasuk biaya guide nya. Jadi ternyata di Ullen Sentalu ini kami tidak diperbolehkan tour sendiri tanpa guide, jadi pengunjung akan dibagi menjadi tim yang terdiri dari kurang lebih 15 orang dengan satu tour guide yang nantinya akan mengajak rombongan untuk berkeliling dan menceritakan setiap sudut museum. O iya kami juga tidak diperbolehkan untuk mengambil foto selama tour berlangsung. Tujuannya agar pengunjung benar benar focus dan menikmati selama perjalanan kurang lebih 1 jam. Tapi jangan khawatir, sudah disediakan beberapa spot untuk berfoto.




Jadi singkat cerita, museum Ullen Sentalu adalah museum swasta yang menawarkan sebuah perjalanan waktu di tanah Jawa. Inti ceritanya adalah tentang Kasultanan dan Kasunanan di Surakarta dan Yogya. Ullen Sentalu sendiri sebenarnya adalah singkatan dari “Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku” . Jadi museum Ullen Sentalu dibagi menjadi beberapa ruangan dengan jenis koleksi yang beragam, dari tokoh pemerintahan kasultanan dan kasunanan, beragam jenis batik, koleksi lukisan, gamelan, jenis riasan penganting dan lainnya yang sangat menarik. Jujur ini kali pertama saya main main ke museum dan seru. Banyak sekali pengetahuan yang sebelumnya saya tak pernah tau termasuk makna lukisan, makna batik, bakan sampai makna pada riasan pengantin Jawa.




Di tengah perjalanan akmi disuguhkan minuman ramuan Ratu Ayu yan katanya bikin awet muda wiih. Setelah usai tour akhirnya kami sampai di tempat di mana ada sebuah replica relief Candi Borobudhur yang sengaja dipasang miring, katanya memang manusia jaman sekarang sudah pada miring, duh. Jadilah kami mulai berpose ria haha. Dan sampai disitulah perjalanan kami. Kami melanjutkan berjalan jalan di sekita museum dan melanjutkan foto foto ria, disana juga terdapat restoran dan butik.
t




Menjelang asar kami kembali lagi ke kosan. Dan kembali menikmati Yogya dari bilik kamar ini sembari hujan turun lagi dengan syahdunya.

Sincerely,
Lina Listyawati

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sudah lama sekali sebenarnya pengen posting sesuatu di blog. Benar benar hampir satu tahun tanpa posting sama sekali. Sebenarnya banyak sekali moment yang ingin saya ceritakan namun karena beberapa alasan termasuk laptop saya yang dua kali masuk service an karena memang sudah berumur, jadilah baru sekarang InsyaAllah saya akan menulis beberapa moment yang belum sempat saya tulis. Karena setelah dipikir pikir, sangat menyayangkan jika moment terlewat begitu saja. Jadi mungkin dalam waktu dekat ini saya akan banyak memposting, semoga saja tak hanya semangat di awal karena memang ada beberapa moment yang mungkin sudah terlupa. Jadi, sampai jumpa di postingan selajutnya :D

Sincerely,
Lina Listyawati

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me

Seorang Introvert yang akan menjadi Ekstrovert ketika bertemu manusia sejenis.

Total Pageviews

Categories

knowledge my story pernak pernik stuff travelling tutorial

Popular Posts

  • Sejenak menikmati Malang di MADOR (Malang Dorm Hostel)
    Jumat, 18 Agustus 2017 Saya dan Dilla tiba di stasiun Malang sekitar pukul 2 pagi, dari pembicaraan kami dengan para driver go c...
  • AKHIRNYA, BROMO !
    18-19 Agustus 2017 okay, ini sudah terlalu lama untuk melanjutkan cerita, tapi tetep harus ditulis biar ga nyesel kalo pengen nging...
  • MERDEKA DI SURABAYA
    17 Agustus 2017 kami tiba di Stasiun Pasar Turi pukul 12.24 siang. Rencana sebelumnya destinasi tujuan saya dan Dilla di Surabaya ada...
  • Simple Drawing with Adobe Flash Professional CS6
    Pada post kali ini saya akan menunjukkan langkah-langkah pembuatan objek sederhana menggunakan Adobe Flash Professional CS 6. T...

Blog Archive

  • September 2020 (1)
  • May 2020 (1)
  • November 2019 (3)
  • October 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • August 2019 (1)
  • September 2018 (2)
  • August 2018 (2)
  • December 2017 (1)
  • September 2017 (1)
  • August 2017 (4)
  • July 2017 (3)
  • March 2016 (3)
  • February 2016 (2)
  • February 2015 (1)
  • December 2014 (1)
  • September 2014 (1)
  • August 2014 (1)
  • June 2014 (2)
  • April 2014 (1)
  • March 2014 (1)
  • January 2014 (3)
  • October 2013 (2)
  • July 2013 (3)
  • June 2013 (2)
  • April 2013 (1)
  • March 2013 (2)
  • February 2013 (1)
  • December 2012 (1)

instagram

Created with by ThemeXpose | Distributed By Blogger Templates20